Senin, 02 Maret 2009

Kisah Tercecer dari Perjanjian Malino

Salah Sebut Memicu Ribut. (Bagian 2)

Setelah menelpon Lukman Baabduh dan buat janji untuk ketemu, aku dan Raphael kembali ke hotel. Nanang sengaja kami minta agar tetap di kantor Telkom dengan alasan kalau sampai malam kami tidak pulang, Nanang harus segera lapor ke polisi.

Setiba di hotel aku telpon Sahlan Heluth, untuk mencari mobil sewaan lain maksudnya agar mobil yang kami gunakan nanti tidak dikenali oleh pengikut Laskar Jihad. Dalam kondisi konflik, perkara mencari mobil sewaan bukanlah hal mudah. Akhirnya Sahlan dapat pinjaman mobil dari Usman Sangadji, salah seorang muslim yang cukup disegani di kawasan itu. Raphael alias Pepet, aku tinggal di lobby hotel karena aku dan Sahlan akan naik becak dan ojek untuk mengambil mobil pinjaman. Setelah mobil pinjaman didapat aku bergegas kembali ke hotel Amans untuk menjemput Pepet.

Begitu melihat kami di lobby Raphael segera menghambur ke arah kami. ”Lam, gawat... si Dicky sama Akmal dibawa orang Laskar Jihad”. ”kemana?” balasku, ”Nggak tau... yang pasti tadi mereka nyari SCTV, tapi mereka liat Dicki dan Akmal di Lobby bawa kamera. Waktu mereka tanya...Dicky bilang dari RCTI, tapi tetap mereka bawa”. Dicki Martiaz adalah produser di RCTI sedangkan Akmal adalah kamerawannya. Mereka sebetulnya akan membuat liputan dokumenter tentang Ambon, tidak khusus meliput konflik Ambon.

”Ya, udah Pet... kita ke Laskar Jihad aja sekarang” pintaku. Segera Raphael yang aku panggil dengan Pepet naik mobil. Jadi kami pergi berempat, Aku, Sahlan Heluth, Juhri dan Raphael. Aku yang menyetir dan Sahlan sebagai penunjuk jalan. Hanya sekitar 20 menit naik mobil, kami tiba di lokasi. Rupanya Lukman Baabduh tinggal di sebuah rumah di kawasan putih, kawasan Batu Merah. Tiba di rumah itu, kami tidak langsung ketemu Lukman Baabduh, melainkan harus isi buku tamu dan ditanya alasan berkunjung.
Selanjutnya kami diminta menunggu di ruang tamu, sekitar lima menit kemudian, Lukman Baabduh keluar dengan dikawal dua orang berpakaian koko. Perawakan Lukman tidak terlalu besar, tingginya mungkin sekitar 165-an centimeter dengan berat tubuh sedang. Segera aku mengenalkan diri dan teman-temanku. Selanjutnya Lukman bertanya apakah kami semua muslim. Dengan cepat Sahlan menjawab ”Iya pak muslim semua”, rona mukanya menunjukkan kekhawatiran. Pepet tampak celingak-celinguk karena sebenarnya Pepet bukan muslim.

Tanpa banyak basa-basi, toh sudah terlanjur basah, aku tanya sama Lukman Baabduh yang tampak tenang dan dingin, ”Pak, saya mau tahu apakah kita TO dari laskar Jihad?”, tidak ada jawaban dari Lukman dan juga tidak ada perubahan air muka. Menyadari situasi yang ”garing” seperti ini, Sahlan tiba-tiba menyahut, ”Bukan, pak... Maksudnya Alam itu, TO bukan Target Operasi.... tapi TO itu adalah cara mengirim gambar dengan satelit”, sahut Sahlan berusaha berbohong untuk meredakan ketegangan dengan muka lugu. Masih belum ada sahutan, aku cepat menukas, ”Maksud saya atas TO, benar Target Operasi”, aku lihat Pepet yang duduk di dekat pintu menggeser posisi duduknya, dia nampak agak gerah dengan perkembangan percakapan. Akhirnya Lukman menjelaskan kekecewaan Laskar Jihad atas perkataan saya atas kata Masjid Immanuel. Saya menjelaskan tidak ada niat saya secuilpun untuk memanaskan situasi atau menghasut apalagi menghina umat muslim Ambon.

Percakapan akhirnya berjalan cair dan saling mengklarifikasi pun terjadi. Akhirnya masalah kesalahpahaman di tingkat ”elite” Laskar Jihad selesai. Tapi di kepalaku masalah belum sepenuhnya aman karena pihak pengikut belum mendengar penjelasan kami. Aku meminta Lukman untuk menyampaikan hasil percakapan kami tadi ke anak buahnya agar ketegangan dapat selesai sepenuhnya. Ustadz Lukman setuju untuk menyampaikan permintaan kami.

Selanjutnya, aku meminta agar dapat dipertemukan dengan rekan kami dari RCTI, Dicky dan Akmal. Karena situasi belum aman karena hasil percakapan kami belum sepenuhnya tersampaikan ke level bawah Laskar Jihad, Lukman bersedia mengantar kami ke lokasi tempat Dicky dan Akmal berada.

Dengan dua mobil berbeda kami beriringan menuju sebuah masjid yang lokasinya agak terpencil. Setelah melalui jalan yang menanjak dan berkelok kami tiba di sebuah masjid yang tidak ada plang namanya, sekitar pukul 5 sore waktu setempat. Aku lihat disana, Dicki dan Akmal sedang duduk di dalam Masjid, posisi kamera terpasang diatas tripod. Di dalam Masjid tampak pula puluhan warga laki-laki dan perempuan.

Kami mendekati Dicki dan Akmal, saat aku menyalami Dicki, dengan bercanda Dicki berbisik ”Tai, lu Lam,...gara-gara lu nich, gue ditahan disini empat jam”. Dengan becanda pula aku membalas, ”Makanya kalo bergerak yang lincah, jadi gak ketangkep!!!”. Kami lalu saling tersenyum.

Untuk sementara situasi bisa diatasi, kami lalu diminta untuk merekam pernyataan pimpinan-pimpinan kelompok yang sudah berada di Masjid itu. Pepet langsung menyiapkan kamera untuk merekam, saat penyataan pimpinan akan dimulai, salah satu pimpinan kelompok berbicara lantang, ”Hei, itu RCTI kenapa tidak rekam???”. Tiba-tiba Akmal menjawab, ”Sudah tadi...”. Tidak terima dengan jawaban Akmal, dia berkata lagi dan berbau perintah, ”Sudah... rekam lagi sekarang!!!”. Akmal dengan ogah-ogahan mengikuti permintaan itu. Lukman Baabduh dan beberapa orang lain keluar Masjid menuju suatu ruangan di samping Masjid.

Akhirnya penyataan pimpinan kelompok berlangsung, hampir semua isinya menyatakan kesiapan mereka menumpahkan darah dan berperang. Tak hanya laki-laki yang berbicara, utusan perempuan ikut pula berbicara menyatakan keinginan mereka untuk berperang. Setelah hampir setengah jam mereka menyampaikan perasaannya, akhirnya pimpinan kelompok berkata kepada kami, ”Ada pertanyaan?”. Kami saling melihat kiri dan kanan, semua menggelengkan kepala tanda tidak ada pertanyaan. Aku kemudian membalas, ”Cukup, pak”.

”Kalau begitu, kalian siarkan semua apa yang kami sampaikan!!!”, wah gelagat tidak baik ini. Pernyataan yang mereka sampaikan tidak ada satupun yang menyejukkan, sisinya sebagian besar kecaman dan kesiapan melanjutkan perang.

Aku dan Dicki kemudian berdiskusi singkat, intinya kami tidak bisa menyiarkan pernyataan mereka yang sangat provokatif. Apabila kami siarkan materi tersebut, akan sangat mungkin pecah konflik dan pertikaian baru. Tinggal bagaimana kami menyampaikan sikap kami kepada mereka.

Berlanjut lagi ya...

Kisah Tercecer dari Perjanjian Malino

Salah Sebut Memicu Ribut. (Bag 1)

Bulan Februari 2002, perjanjian Malino untuk perdamaian di Maluku sebentar lagi akan berakhir. Aku ditugaskan berangkat ke Ambon bersama dua kamerawan, Raphael Setyo dan Nanang untuk meliput kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pasca perjanjian damai Malino di Ambon.

Sebelum berangkat, terdapat dua kemungkinan atas perjanjian Malino, satu, disambut suka cita, kedua, konflik masih belum berakhir. Misi utama adalah jurnalisme damai, ”peace, man!!!”, opo maksud’e.

Sesampainya di Bandara Pattimura, aku dijemput Sahlan Heluth, saat itu menjadi kontributor berita.”Kita naik Speed saja, bang...”. ”Kenapa?” tanyaku. ”Lebih aman bang daripada lewat jalur darat,... kalau darat kita harus melintasi kawasan merah dan kawasan putih sekaligus”. Kawasan Merah adalah kawasan yang dikuasai warga penganut agama Kristen dan Kawasan Putih adalah daerah yang dikuasai warga Muslim Ambon.

Wah..., aroma konflik masih tercium kental dari saran Sahlan. Kami akhirnya menyewa speed boat, rupanya Sahlan telah meminta bantuan dua orang personel polisi yang membawa senjata AK 47 untuk mengawal dan bersama kami selama perjalanan di teluk Ambon.

Setelah berjalan selama 15 menit perjalanan dengan speed boat, kami melanjutkan perjalanan dengan naik becak ke hotel Amans, singkatan dari Ambon Manise. Letaknya di daerah jalan Pantai Mardika, dekat dengan pusat kota Ambon. Hotel ini beruntung karena terletak di lokasi Baku Bae, yaitu lokasi yang dihindari untuk berperang. Hotel dekat dengan pasar Mardika, warga Ambon yang terlibat konflik masih dapat mengandalkan pasar ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Selama perjalanan dengan becak, masih terlihat reruntuhan bekas terbakar dan puing-puing bangunan. Mata warga Ambon pun terlihat penuh selidik, senyum nyaris sulit ditemui. Selama perjalanan rasanya sudah cukup untuk menyakini bahwa Ambon masih bergejolak.

Singkat cerita, liputan demi liputan kami lakukan. Semua berita harus berimbang, kalau ada pernyataan dari pihak Merah maka harus ada pernyataan pihak Putih, begitu sebaliknya. Kalau tidak dilakukan maka salah satu pihak dapat dipastikan akan mencari kita.

Pemandangan warga membawa senjata tajam seperti golok, panah dan tak jarang senjata api rakitan dan organik ikut pula menyeruak diantara kerumunan warga. Nada tinggi ancaman dan saling tuding menjadi pemandangan yang biasa dalam situasi konflik.

Beberapa kali kami berada di lokasi yang sedang bertikai dengan senjata tajam, sering pula mendengar suara tembakan dari jarak yang jauh. Kebiasaaan warga Ambon yang sedang trend waktu konflik adalah membawa parang atau pedang panjang dengan ujung parang bergesekan dengan aspal atau tanah. Kalau warga yang membawa pedang atau parang panjang itu dibonceng sepeda motor, maka ujung parang meimbulkan bunyi hasil gesekan dengan aspal, tak jarang gesekan itu memercikan bunga api.

Pertikaian yang akhirnya berujung dengan rentetan letusan senjata api pernah pula aku alami. Aku berapa kali terkagum kagum dengan kamerawan Sahlan Heluth, Juhri, yang meliput bersamaku. Aku melihat langsung bagaimana ketenangan Juhri mengambil gambar, bahkan pernah sambil berjalan mundur dia terus mengambil gambar warga yang digotong oleh warga lain, entah terkena apa, apakah lemparan batu atau terkena peluru, yang pasti sang korban terdiam saat digotong. Saat mengambil gambar dengan mundur itulah, Juhri terjatuh tersandung batu, tapi dengan tenang Juhri tetap memegang kameranya dan terus mengambil gambar sambil terlentang sedangkan suara letusan peluru masih juga terdengar.

Secara redaksional prinsip kehati-hatian menjadi panutan utama, tak jarang aku harus berdebat dengan ”redaktur” atas tayangan berita dari Ambon, sampai akhirnya aku meminta agar berita yang masuk dari kami di Ambon tidak diedit oleh redaktur, karena menghindari kesalahan persepsi dan kesalahan konteks dari News-Room Jakarta. Permintaan ini didasari, apabila terjadi kesalahan maka kami yang ada di Ambon akan terancam. Aatupun kalau ada perubahan minimal kami diberitahu terlebih dahulu.

Nah... akhirnya suatu saat luput juga. Pagi itu aku melakukan laporan langsung telepon dengan Ira Koesno, Anchor SCTV. Ira menanyakan kepadaku situasi terakhir kota Ambon, dan aku melakukan satu kesalahan pada satu kalimat, ” Ya, Ira.. saat ini warga masih berkerumun dan berjaga jaga di kawasan Masjid Immanuel... maaf maksud saya Masjid Al Fatah”. Selanjutnya laporan lancar lancar saja. Jadi pada saat itu terdapat dua tempat yang menjadi lokasi akumulasi warga dalam jumlah besar yaitu Masjid Al Fatah untuk warga Muslim dan Gereja Immanuel untuk warga Kristiani.

Aku tidak pernah berpikir bahwa slip of the tounge-ku berujung panjang. Siang hari aku bertemu dengan wartawan Republika di Ambon dan dia berkata, ”Bang, hati-hati... abang sedang dicari Laskar Jihad”. ”Ada apa?” balasku cepat. ”Mereka menyebut abang adalah bagian dari kelompok Merah, abang telah berpihak ke Merah. Tadi di Radio Muslim Maluku Ja’far Umar Thalib telah menyebut SCTV berpihak ke kubu Merah. Abang disebut telah mengetahui rencana bahwa Masjid Al Fatah akan dijadikan Gereja Immanuel”. Dengan bingung aku menyahut ” Astaghfirullah... aku hanya salah sebut dan sudah aku koreksi”. ”Tapi bang, isu gampang digoreng dan dibolak-balik....”. Memang benar isu dan informasi sangat mudah berbolak-balik dan memancing kemarahan pada daerah dan situasi konflik.

Setelah mengucapkan terimakasih, aku berpisah dan menuju ke Polda Maluku untuk mengetahui pergerakan pasukan personel polisi dan info keamanan terakhir. Di salah satu lorong gedung aku bertemu dengan Wakil Kepala Polda Maluku, Tommy Jacob, waktu itu pangkatnya Komisaris Besar Polisi. ”Hei bung, kamu ngomong apa pagi ini?... ada masalah nih”. Kata pak Tommy. ”Serius ini?” tanyaku. ”Eh, kau jangan maen-maen... ini serius. Sudahlah hari ini jangan pergi jauh-jauh dulu, tinggal di hotel aja, biar aman dulu” saran pak Tommy. Masih dengan heran aku menatap pak Tommy yang tersenyum dan mengucap ”Ok-lah, terimakasih”.

”Wah, beneran situasi gak jelas, kita ke Telkom dulu” kataku kepada Raphael dan Nanang. Setelah kirim gambar hasil liputan ke kantor via satelit di Telkom, aku menelpon Ja’far Umar Thalib sebagai panglima tertinggi Laskar Jihad. Ja’far Umar Thalib membenarkan adanya tuduhan bahwa aku dan SCTV telah berpihak ke kelompok Merah. Lama aku mendengar Ja’far Umar marah-marah. Kami pun lalu berdebat lama, hampir sekitar satu jam. Akhirnya aku minta Ja’far Umar untuk memberikan kontak panglima tertinggi di Ambon. Aku ingin menemui panglima tertinggi mereka di Ambon dan melakukan klarifikasi. Lebih baik aku yang mencari mereka daripada aku yang dicari mereka pikirku. Sebelum telepon kututup aku meminta agar Ja’far Umar menelpon panglima tertinggi Laskar Jihad di Ambon, Lukman Baabduh. ”Ustadz, telepon dulu pak Lukman nanti aku akan telepon dan temui pak Lukman” pintaku pada Ja’far Umar. Permintaanku akhirnya disetujui.

Berlanjut yaa....

Senin, 23 Februari 2009

Balada si Pian

“Koran.. koraaan!!”, “Koran… koraaan…!!!”, tiba-tiba suara keras mengagetkan aku di pagi itu. Aku yang sedang baca koran di ruang depan dekat jendela, segera mencari sumber suara. Aku liat dari jendela, si Pian, tukang korang langgananku sedang melepas baju seragam SMP-nya dan menyisakan baju kaos hitam yang sudah samar warnanya. Dua menit kemudian dia berteriak lagi, “Koran.. koraaan!!!”, “ Sebentar…” balasku.

Ada apa pikirku, hari itu pertengahan bulan, belum waktunya bayar uang langganan koran. “Ada apa???”, “ Begini Oom…” si Pian sedikit tersedak sebentar dan melanjutkan “mau minta uang langganan koran…” katanya. “Lho, kok sekarang?”. “Iya Oom, mau bayar uang LKDS” kata Pian kurang pede. “Apaan tuh LKDS?”. “Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa”. “Oo, begitu..” kataku.

“Berapa Yan?”, “Rp.37.500, oom…”. “Harus sekarang ya, Yan?”. “Iya Oom, kalo nggak nggak boleh ikut”. Uppss… kaget aku mendengar jawaban Pian. Si Pian lalu melanjutkan dengan ngomong “Nanti dipotong aja Oom dari uang bayaran langganan koran”. “Ya, udah…”. Aku lirik dompetku dan memberikan uang yang diminta Pian dengan sedikit tambahan.

“Makasih, ya Oom” senyum Pian mengembang dambil menatapku, padahal dari tadi dia lebih banyak menunduk.

Setelah si Pian berlalu, dengan seorang temannya yang rupanya menunggu dari jauh, aku berpikir. Ya… ampuun, masih ada aja bayaran yang jadi kewajiban siswa. Padahal untuk kegiatan siswa sudah ada bantuan berupa Bantuan Operasional Sekolah, BOS.

Peruntukan dana BOS adalah: biaya penerimaan siswa baru, pembelian buku pelajaran, pembelian bahan-bahan habis pakai, pembiayaan kegiatan siswa, pembiayaan langganan daya dan jasa, pembayaran honorarium guru honorer, pembayaran tenaga pendidikan honorer sekolah, pembiayaan ulangan harian, pembiayaan ulangan umum, pembiayaan ujian sekolah, laporan hasil ujian. Nah lho, artinya LKDS-nya si Pian seharusnya ditanggung oleh pihak sekolah.

Sedikit kilas balik, si Pian ini sudah hampir 3 tahun jadi tukang korang langgananku. Awalnya Pian aku pilih, karena teriakannya paling keras dibanding yang lain. Tiap pagi dia mengendarai sepeda dengan berseragam SD, putih-merah.Sekarang si Pian sudah kelas satu SMP. Aku berpikir, boleh juga semangatnya.

Aku selalu berharap pada anak-anak yang penuh semangat untuk belajar walaupun kondisi keuangan orang tua-nya kurang beruntung. Dengan semangat belajarnya, insyaallah akan ada Mobilisasi Vertikal, yang arti singkatnya: dengan pendidikan akan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Peningkatan itu berupa pengetahuan, wawasan, ketrampilan hingga pendapatan yang pada gilirannya akan meningkatkan dan membantu taraf hidup dirinya dan keluarganya. Itulah hakikat pendidikan menurut aku.

Jadi menurut aku, pendidikan itu harus baik, terjangkau dan kalau bisa gratis. Orang yang beruntung mendapatkan pendidikan yang baik dan tinggi adalah orang yang pintar dan mau belajar, bukan orang yang mampu membayar.

Dalam kasus uang LKDS-nya si Pian, tercermin tidak semua orang dewasa dan pihak sekolah paham dengan HAK si Pian untuk mendapatkan pendidikan, kesempatannya untuk meningkatkan taraf hidup, untuk menjalani Mobilisasi Vertikal!!!

Rabu, 11 Februari 2009

Jas Hitam untuk Mental Inlander

Kemarin sore 10 Februari 2009, aku datang buru-buru ke kediaman Presiden SBY di Cikeas, Bogor. Sebelumnya aku terima pesen boss menyebut, “Lam, kamu datang ke Cikeas, sepertinya SBY akan kasih kesempatan TV untuk wawancara…”. Kling-klong… otakku muter sejenak. “Kamu nggak pake jeans kan?”. “Wah, aku pake jeans dan sepatu kets, mbak?”. “Pinjem aja ke wardrobe, nanti koordinasi ya”.

Ok, aku langsung ajak dua kru untuk ke Cikeas, sebelumnya sudah ada satu tim disana. Aku mampir dulu ke wardrobe, untuk nganter dua orang kru minjam baju kemeja dan sepatu pantofel. Aku, sendiri pinjam jas hitam aja.

Biasanya kalau urusan dengan kepresidenan, kru yang datan harus rapi, harus berpakaian kemeja, celana bahan dan sepatu kulit. Kali ini acaranya di Cikeas, pasti lebih longgar, tapi untuk jaga-jaga, kayaknya boleh juga pinjem properti.

Setelah urusan pinjam meminjam kelar, aku mampir ke mobilku untuk ganti sepatu kets-casual dengan sepatu kulit. Ada celana bahan di dalam mobil, aku bawa aja, dimasukkin ke dalam tas. Akhirnya yang aku pake adalah, kemeja dengan jas hitam, celana jeans belel dan sepatu kulit hitam. Ayooo berangkat...

Masalah yang sempat hangat adalah pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat yang berbau melecehkan Partai Golkar. Setelah mendapat komentar ”agak” keras dari Jusuf Kalla dan kader Partai Golkar lain, Partai Demokrat kayaknya merasa perlu untuk mengklarifikasi isu yang nggak mengenakkan itu. Cerita soal itu, selanjutnya baca aja di koran ya... kali ini yang aku pingin cerita adalah tentang pakaian sebagai status sosial dan untuk nakut-nakutin orang.

Kenapa aku cuma pinjam jas aja dan tetap memakai jeans. Begini ceritanya: Dulu, waktu presidennya masih Megawati aku pernah melakukan hal serupa. Aku ada perlu mendadak untuk masuk ke lingkungan istana, namun aku pake celana jeans dan tidak memiliki pas atau ID kepresidenan. ID Kepresidenan adalah wajib hukumnya bagi wartawan yang ingin masuk ke lingkungan istana. Kalau tamu, urusannya pasti lebih panjang. Kalau mau ngurus seperti layaknya tamu, pastilah lama. Jadi aku putuskan untuk berangkat aja, urusan kita liat nanti. Sebelum berangkat, aku comot dasi dan jas di wardrobe.

Sampe di lingkungan istana, dengan kemeja, berdasi, berjas dan celana jeans aku mencoba masuk. Aku merasa ”orang Indonesia” masih bermental inlander kok... kita buktikan ya!!!

Dengan percaya diri aku melangkah masuk, isi buku tamu dan pura-pura menelpon selepas pemeriksaan Metal Detector. Setelah itu masih ada penjagaan lain, dengan penampilan dan gaya layaknya orang penting yang berjas, berdasi dan sibuk menelpon, aku bisa masuk ke lingkungan istana, berhasil!!!, penjaga tidak berani dan sungkan menegur. Woowww, semudah itu ya... akses bagi orang berdasi, berjas dan sok sibuk!!!

Nah, kembali ke acara yang kemarin. Di benakku hal seperti itu pasti lebih gampang terjadi karena kegiatannya di rumah bukan di istana.

Begitu sampai di Cikeas, aku liat ada beberapa wartawan yang pake celana jeans. Yuups, aku masuk dengan celana jeans dengan ceria, kalau ada kesempatan wawancara, emangnya nggak boleh kalau pake celana jeans? yang nggak boleh kan kalo nggak bercelana...

Singkat cerita kesempatan wawancara khusus yang dihembus-hembuskan tidak terjadi pada satu wartawan pun, SBY hanya konferensi pers.

Sekarang yang jadi bahan bahan isengan teman-teman wartawan adalah jas-ku. Karena mereka sangat jarang liat aku pake jas, apalagi aku sudah agak jarang meliput ke lapangan, komentarnya beragam, “wuihh, penampilannya beda sekarang”, “makin mantap nich”, “waduh, sukses terus ya...” dan lain lain. Nggak enak juga ya, diisengin dengan pertanyaan seperti itu, tapi aku jelasin aja, “Biasaaa... jaga-jaga kalo nggak boleh masuk oleh penjaga karena pake celana jeans dan nggak berkemeja formal, hahahaha...”. Tapi becandaannya jadi berubah, “Wah, makin pinter nih ngelesnya,....”.

Ternyata, lebih susah ngadepin teman-teman wartawan ya, daripada ngadepin penjaga yang masih bermental inlander!!!

Senin, 26 Januari 2009

Hipotesis atas Sebuah Warung Martabak

Sudah dua malam sebelum aku nulis ini, aku perhatiin ada sebuah warung martabak yang rame, sampai pembelinya harus antri lumayan panjang hingga trotoar.

Pertama aku perhatiin, apa ini? Ohh… ternyata warung martabak yang baru buka, alamatnya sih, nggak usah aku sebutin karena “iklan”, yang pasti lokasinya kurang dari satu kilometer dari rumahku. Warung ini, tadinya hanya jual roti unyil, itu lho roti yang ukurannya kecil-kecil, makanan khas dari Bogor.

Malam berikutnya, pembelinya masih rame juga… aku sempatin cari tulisan yang mengiklankan makanan apa yang dijual, ooh... ternyata yang dijual adalah martabak dengan modifikasi. Warung itu jual, martabak isi strawberry, isi duren, isi pisang, isi kacang mete dan isi lain-lain yang diluar kelaziman “sebuah martabak”. Aneh pikirku martabak aja dimodifikasi, tanpa mencari tulisan-tulisan lain, khawatir bikin macet karena jalannya relatif rame kendaraan.

Pagi ini, aku lewat lagi jalan itu dan kebetulan jalan agak sepi karena libur tahun baru Imlek.Aku cari lagi apa yang membuatnya laris dan rame, oh la..la, ternyata nama warungnya adalah Warung Martabak ALIM.... ntah kenapa otakku menyuruh bibirku tersungging keatas, tersenyum-senyum sendiri.

Otakku berbisik untuk satu hipotesis bahwa tingkat religiusitas berkorelasi positif terhadap tingkat kelarisan warung martabak, jadi penjual martabak itu harus ahli ibadah dan alim biar laris.... , kutambah volume radio di mobilku agar hipotesis iseng itu tidak membuat aku tertawa-tawa sendiri.

Inspired by DP.

Kamis, 08 Januari 2009

Spirit carries on...

Apapun alasannya untuk berperang, kekerasan hanya menyisakan kesedihan!!!.
Kemarin, 7 januari 2009, aku buat 30 menit show on Palestine under attack!, secara naluri kok, pengen aja menempatkan lagu ini sebagai salah satu theme song.

Menurutku liriknya cerdas dan cenderung jenius, saat kematian bukan lagi hal yang harus dihindari.

Kalau melihat dalam konteks serangan Yahudi ke Palestina, lagu ini kok sangat menyentuh ya...

Music by Dream Theater
Lyrics by John Petrucci

Nicholas:
Where did we come from, Why all here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say, "Life is too short,"
"The here and the now"
And "You're only given one shot"
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we've got?

If I die tomorrowI'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was beforeI'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrowI'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

Victoria:"Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear"

Nicholas:Safe in the light that s
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again

Surrounds me
Victoria's real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I'm here
It's perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I'd be all right
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

Minggu, 04 Januari 2009

Memakmurkan Masjid

Byur, byuur, hahaha.... byur, hahahaha... kedengaran suara anak-anak.
Begitu aku liat, ternyata ada enam anak-anak usia SD sedang berenang dan berloncatan di dua buah kolam di depan Masjid Agung Serang, Banten. Rata rata bertelanjang bulat, hanya ada satu-dua orang saja yang memakai celana pendek, itupun dipake, dilepas, dipake lagi dilepas lagi.

"Hei... Dul, emang boleh mandi disini?", tanyaku. "Hahaha, kok dipanggil Dul?, boleh kok" balas mereka. "Okey, lanjuut" kataku sambil njepret mereka.
Itulah yang menurut aku memakmurkan masjid. Meramaikan masjid dengan sebenar-benarnya. Aku paling nggak suka melihat masjid yang mempraktekkan aturan yang keras bagi anak-anak. Ada masjid yang melarang anak-anak bersuara keras, melarang mereka berkejaran di halaman masjid, melarang mereka pake celana pendek dan banyak lagi aturan-aturan lainnya. Kali ini benar-benar terbuka, mereka bertelanjang berenang di kolam yang sebenarnya pada jaman dahulu adalah tempat berwudhu. Air dalam jumlah tertentu, kalo nggak salah dua kullah, walaupun tidak mengalir, tetap suci dan mensucikan, begitu syariatnya.... cieee :-).

Karena sekarang sudah semakin maju, wudhu tinggal buka kran, maka tempat wudhu di depan masjid sudah tidak terpakai lagi. Jadilah tempat ini menjadi lahan belajar lompat indah dan berenang anak-anak di sekitar Masjid Agung Serang yang lokasinya berada di kawasan situs Banten Lama.

Aku teringat berapa tahun silam, saat aku SD. Aku tinggal di Plaju, Palembang, Sumatra Selatan. Rumah tinggal orang-tuaku di dekat masjid Darul Ridwan. Masjid ini memiliki halaman yang luas di sekelilingnya. Halaman depan ada lapangan yang dijadikan lapangan sepakbola, rumputnya relatif terawat dan selalu hijau. Disebelah kiri masjid ada lapangan lagi, yang juga dijadikan tempat bermain sepakbola, tapi bentuknya tidak selebar halaman depan masjid. Sebelah belakang ada halaman yang lebih luas dan memanjang, tapi tidak biasa dijadikan tempat bermain bola. Kalo di sebelah kanan masjid ada halaman juga tapi tidak dijadikan arena bermain. Hampir setiap sore aku main bola di sekitar masjid. Karena masih kecil (masih SD, coy...) aku biasanya main di halaman kiri masjid, karena halaman depan biasanya yang ikut main sudah serius dan tua, hahaha...., tapi suasananya benar-benar seru dan egaliter.

Melihat anak-anak Serang main di masjid, ingatanku adalah aku juga dulu main di masjid. Masjid benar-benar ramai dan makmur. Tidak perlu memakmurkan masjid diartikan sempit hanya mendatangi masjid untuk ritual keagamaan, hanya main-main pun okey juga.

Sudah lama aku berpikir, kenapa sih masjid menjadi "terlalu" disakralkan. Hanya tempat sholat, ngaji dan ritual keagamaan lain. Mengapa masjid tidak dijadikan tempat berdagang, mengapa tidak ada swalayan yang dikelola pengurus masjid. Mengapa tidak ada kegiatan produktif di kebanyakan masjid.

Benci rasanya melihat orang-orang menadahkan tangan di jalan dengan dalih ingin membangun masjid. Apa nggak malu...tuuhhh. Apa nggak risih, melihat orang menadahkan tangan di masjid karena akan ada perayaan keagamaan.

Masjid umumnya memilliki tempat parkir yang biasanya disesuaikan dengan daya tampung masjid. Itu point lebih, apalagi di Jakarta. Coba andaikan ada ruang tertentu di masjid yang dijadikan swalayan, mini market, tempat kursus, tempat pertemuan yang disewakan. Kelola-lah masjid dengan baik, buat hot-spot, tempat ngopi dan lain-lain. Kayaknya masjid benar-benar bisa "dimakmurkan" dalam artian sebenarnya. Jamaah yang datang bisa ramai, keuangan masjid pun lebih menjanjikan.

Coba bayangkan, andaikan masjid Sunda Kelapa atau Masjid Al Azhar, atau masjid Istiqlal memiliki fasilitas yang baik. Punya swalayan, jadi usai sholat bisa belanja atau sebaliknya. Punya tempat kongkow di halamannya dengan hot-spot dan kedai kopi kecil yang cantik. Punya ruang presentasi, punya ruang pertemuan, aku membayangkan masjid akan selalu ramai dari siang hingga malam. Sekarang tinggal dibuat aturan dan manajemen yang baik.

Kalau masjid punya tempat yang asyik, kita punya alternatif meninggalkan kedai-kedai kopi atau waralaba asing.

Yuuk, kita mengelola masjid dengan rapi. Ada urusan dunia, ada urusan akhirat, tapi dua-duanya bisa seimbang. Asyiiiikkkk...
Suatu saat ada ajakan, "Heiii, ketemuan yuuk sambil ngopi-ngopi di masjid Sunda Kelapa". Atau "Ketemuan yuuk, di Al Azhar". "Makan pecel lele yuuk di Istiqlal" Perlahan tidak lagi ajakan "Ngopi yuuk di St******", atau "Ketemuan yuuk di Ca** ****".

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017 Oleh: Alam Burhanan Virginia, USA Mendengar kabar ada serangan yang mematikan, mende...