Selasa, 24 Oktober 2017

JANGAN BEREBUT TUHAN, BERBAGI SAJA

JANGAN BEREBUT TUHAN, BERBAGI SAJA
Oleh: Alam Burhanan
di Virginia, US

Musik gospel mengisi ruang utama gereja Epiphany di tengah kota Washington, DC. Lima orang pemainya sedang berlatih untuk acara hari selasa depan. Saat itu hari Jumat, sekira pukul 10.00, waktu pantai timut AS. Musim dingin jelang natal 2016.

Saat mereka berkemas usai latihan, pendeta Patricia menuju ke bagian depan ruang itu. Seorang tunawisma membantunya membopong meja. Sekitar sepuluh orang jamaah sudah menunggu untuk belajar harian bersama kitab Injil. Tunawisma itu duduk di pojok barisan depan.

Belajar dimulai, semua memegang alkitab, tapi tunawisma tua itu tidak. Ada banyak alkitab di dekatnya, tapi dia tidak menyambutnya. Mungkin dia lupa meletakkan kacamata bacanya atau entahlah aku tak sempat bertanya.

Gereja ini, memang membantu rutin para tunawisma dengan memberikan makanan harian pada orang yang kurang beruntung ini. Muslim dan agama lain juga diajak kerjasama menyediakan makanan untuk tunawisma. Jumat siang itu, sup hangat menu tepat di kala dingin disiapkan.

Para tunawisma juga sering menjadikan ruang utama gereja menjadi tempat istirahat atau mencari ruang hangat saat suhu di luar dingin membeku.

Tujuh tunawisma berada di sudut  lain gereja. Mendekap erat selimut, merapatkanya ke badan. Sebagian asik mendengarkan musik dari radio usang yang dipasang tanpa headphone. Suaranya terdengar radius tiga meter.

Sebagian muslim, terlihat dari busananya mulai memasuki gereja kurang dari pukul 12.00. Tak lama setelah pelayanan alkitab pendeta Patricia usai beberapa muslim sigap menggelar sajadah sajadah, sebagian lain membantu pendeta Patricia berkemas usai.

Setiap hari jumat, gereja ini dipakai untuk sholat jumat bagi muslim di Washington DC. ADAMS Center, organisasi muslim terbesar di Washington DC Area menyewa gereja ini untuk sholat jumat.

Mahalnya lahan, bangunan dan sewa bangunan menjadi alasan kerjasama dengan gereja Epiphany. Gereja menyambutnya. Gereja tak menganggap sebagai pesaing keyakinan apalagi musuh. Berbagi ruang bertemu Tuhan  masing-masing keyakinan.

Dua rabbi Yahudi dan beberapa jamaahnya datang ke gereja menyaksikan muslim ibadah.

Imam Suhaib Webb, seorang mualaf memberi khutbah. Peningkatan keimanan dan toleransi adalah ujarannya hari itu. Imam Suhaib dulu seorang DJ HipHop, kakeknya seorang pendeta. Dia memeluk Islam dan mencari ilmu hingga ke timur tengah. Belajar AlQuran di Azhar, Kairo, Mesir dan tempat lain. Sempat pula tinggal beberapa lama di Malaysia. Tak  mau belajaar setengah setengah.

Tunai ibadah sholat jumat, direktur ADAMS Center Washington DC Farooq Syed, meminta jamaah untuk tetap tinggal beberapa saat. Dia mengundang rabbi  Yahudi untuk maju ke depan. Berdampingan dengan Imam Suhaib, dia menyatakan mendukung muslim dari ancaman Islamophobia. Islam agama damai ucapnya, jangan jadikan kekerasan oleh sebagian muslim radikal sebagai alat pembenar bahwa Islam merestui kekerasan.
Dia menyatakan mendukung umat Islam bila diperlakukan tidak adil.
Tanya jawab singkat sempat terjadi antara rabbi dan jamaah muslim, selebihnya berpelukan pamit pulang.

Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama. Kristen, Islam dan Yahudi di gereja Epiphany, sebuah gereja tua berjarak satu kilometer saja dari Gedung Putih, kantor presiden AS.

Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama saling menguatkan.


Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama mencari Tuhan mereka.

ARTAN MATI UNTUK APA?

ARTAN MATI UNTUK APA?
Renungan Tindak Brutal Muslim di Columbus, Ohio

Oleh: Alam Burhanan
di Virginia, US

Abdul Razak Ali Artan, baru berusia 18 tahun. Baru kuliah satu semester di kampus Ohio State University, OSU di kota Columbus.

Senin, 28 november 2016, sekira pukul sepuluh pagi di mati.
Tiga butir peluru polisi menghentikan detak jantungnya yang sebelumnya berdegup kencang-kencang. Sekencang mobil yang disetirnya.

Artan tinggal bersama ibu dan lima saudaranya. Dia putra tertua. Harapan keluarga imigran asal Somalia. Dia pintar, cum laude dari community college, sebelum dia menempatkan namanya menjadi mahasiswa di OSU. Sebuah kampus negeri besar di Ohio.

Tetangga dan kerabatnya menyebut dia anak baik. Warung di dekat apartemen keluarganya bersaksi dia ramah, tak pernah beli alkhohol, sesuatu yang jamak dicoba remaja seusianya.

Di OSU, dia sempat mengeluh susah mencari tempat sholat. Dia tertib menjalankan sholat 5 waktu. Keluhannya atas tempat sholat membuatnya dijadikan profil dari artikel di majalah kampus.

Semangat cintanya pada agama Islam membuatnya Artan, peduli dengan muslim lainnya. Terlacak kecintaanya itu oleh pihak lain.
Diubahnya pola pikir Artan, dia menjadi radikal dalam waktu pendek saja. Media digital sekarang, membuat orang mudah saja terhubung. Niat baik dan buruk mudah saja tersambung.

Pagi itu kemarahannya memuncak, dia tulis di linimasa Facebooknya bahwa dia muak dengan dengan kekerasan yang terjadi terhadap muslim di seluruh dunia. Solidaritasnya membatu. Keras hatinya. Hanyut dia dalam kerasnya semangat. Lupa dia dengan ibunya yang berjuang keras mengasuh dia dan lima saudara lainnya. Lupa dia perjuangan keluarganya yang menjadi pengungsi dari Somalia.

Kuat diduga dia terpengaruh gerakan radikal di Timur Tengah, paling tidak sinyalemen itu ditangkap oleh aparat.

Setelah menulis kemarahannya di Facebook, diraihnya kunci mobil milik kleuarganya. Diambil pula pisau daging dari rumah. Keluar dia dengan marah. Marah sejadi jadinya. Mobil dipacu kencang, masuk area kampus. Dipacu mobilnya ke trotoar, di tabraknya pejalan kaki. Mobilnya terhenti menabrak bangunan, tapi tidak marahnya.

Segera dia genggam pisau, dihujamkannya pada pelintas yang menanyakan apakah dia baik baik saja setelah tabrakan. Pelintas mengira dia megalami kecelakaan. Tak ambil peduli dalam diam dia menghujamkan pisaunya.

Polisi datang, dia terus menyerang dalam diamnya. Polisi harus menghentikannya dengan tembakan, dia tetap diam hingga mati.

Di rumah, keluarganya meraung. Adik adiknya  sempoyongan, tak pernah terbayangkan kejadian ini. Dunia terasa sesak. Sang kakak mengambil jalan tak layak. Berat beban mereka tanggung, kakak tercinta harus diikhlaskan, tapi jalan tak layak itu tak masuk akal mereka.

Di sudut lain, organisasi Islam di Amerika mengutuk perilaku kekerasan. Pun demikian komunitas muslis Somalia dan masjid masjid di Ohio. Mereka sedang mengajak muslim Amerika untuk menunjukkan jiwa yang santun, baik seperti tuntunan Islam. Karena jalan seperti itulah yang mereka yakini mampu menyadarkan orang bahwa Islam tak perlu dibenci., Islam bukan berjiwa marah. Sebaliknya Islam adalah kelembutan, kedamaian.
Mereka kecewa mengapa Artan terpengaruh. Mereka mengutuk mengapa ada orang yang mengajak pemuda itu menjadi radikal. Mereka simpati dengan pedih yang ditanggung keluarga Artan.
Harapan keluarga Somalia kandas, menghujam deras ke dasar sakit.
Abdul Razak Ali Artan, pemuda pintar itu direnggut dari keluarga, terpengaruh bertindak brutal.

Artan Mati, menimbun mimpi indah ibu dan lima adiknya.

Selasa, 22 Desember 2009

Nyelelek… Gerbong Pansus Burisrowo

Sembilan orang berloncatan ke dalam gerbong. Masih baru gerbong itu, tapi sudah terlihat tidak terawat dengan apik. Warna gerbong yang hijau muda sudah pudar dihiasi dengan beberapa karat di persendian dan tulangnya. Sembilan orang itu, tidak risih dengan kondisi gerbong, mungkin sudah menjadi bagian dari dari kerusakan gerbong-gerbong itu.

Grudag, grudug, krompyang… mak dul.. mak dull… suara sumbang dari dalam gerbong bermunculan tanpa harmoni tak lama setelah sembilan orang itu naik dan menguasai gerbong. Semua membawa pesan dari yang memintanya naik ke atas gerbong. Rekan lainnya adalah kepentingan saja, suara mereka tidak perlu sama, yang penting bunyinya nyaring. Enam ratus halaman laporan investigasi para dewa utusan Bethara Guru tidak pernah dibaca, sehingga bunyinya tak menemukan jawaban yang penting, melainkan hanya pamer jago silat lidah dan interupsi tidak penting.

Ujung jalan gelap, tujuan dari gerbong. Mereka tidak peduli yang penting naik panggung dan menjadi pahlawan. Penduduk di sepanjang jalur yang dilewati gerbong diajak naik, yang mengerti tentang gerbong diajak menyatakan pandangan, yang tak mengerti dihasut dan dijejali pengetahuan yang nihil. Pertanyaan tidak bermutu, hanya membuang waktu, aroma kematian sudah tercium. Akan kemana mereka dibawa?

Ternyata komandan gerbong bernama Burisrowo dan Kartamarma. Kaya dengan omongan nihil mereka mencecar Setyaki. Setyaki dikejar kemana-mana, padahal Setyaki sedang menunggu Prabu Kresna yang sedang bernegosiasi dengan Duryudana untuk membagi Kerajaan Astina, bung… ini masalah kekuasaan.

Setyaki yang sedang mengatur keuangan pemerintahan Prabu Kresna, dianggap alpa dan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan kekuasaan Prabu Kresna. Dunia perkeliran tidak menyebut Setyaki dan Prabu Kresna salah, tapi di perkeliran sekarang Setyaki dan Prabu Kresna boleh jadi salah, tapi kalau orang di gerbong mengincar daulat Prabu Kresna yang dipilih 63 persen suara rakyat, mereka alpa besar.Jelas mereka tak mampu merebut kuasa Prabu Kresna, tapi mereka mau mengganggunya dan minta sapi-sapi dari sang Prabu. Dagang sapi.

Bisa jadi muncul goro-goro, Triwikromo dari rakyat… Chaos di Negeri Astina.

Hukum di gerbong sana tak jelas, syahwat berkuasa terlalu merendam otak-otak mereka yang sedikit, mereka memang berpikir politik dan hanya melulu tentang ujungnya, Kuasa!

To predict the behaviour of ordinary people in advance, you only have to assume that they will always try to escape a disagreeable situation with the smallest possible expenditure of intelligence. (Friedrich Nietzsche).

Now, you see!

Kamis, 17 Desember 2009

Mengintip ATA

Bagian 2.

Jam tangan menunjuk pada angka 6.30 sore waktu Singapore, saat aku, Uwo, Eva dan Firman menaiki taksi di depan hotel tua Grand Central Orchad Road tempat kami menginap. Pakaian sudah dipatut layak untuk pesta gala dinner.

Tak sampai 10 menit, kami tiba di lobby hotel Pan Pacific. Karpet merah diinjak untuk mengantar kami ke pintu masuk. Di depan pintu masuk terpasang standing banner bertuliskan Asian Television Awards 14th. Kami diminta panitia untuk foto bareng dulu.

Masuk ke dalam kami disambut dengan gelas-gelas anggur, merah dan putih di baki yang dibawa oleh petugas hotel. Hanya ada dua meja tempat menaruh beragam jenis kacang, sebagai teman minum anggur, di selasar ruang galla dinner, ball room. Tamu berbaju rapi, kebanyakan dengan stelan jas dan baju malam hitam.

Wajah-wajah para tamu tidak aku kenal, mereka berbincang berkelompok-kelompok. Di tengah ruang selasar, kami bertemu dengan Najwa Shihab, Kania Sutisnawinata dan Fifi Aleydia Yahya dari Metro TV. Kania dan Fifi mendampingi Nana yang jadi nominasi The Best Current Affairs Presenter. Aku dan temen-temen mengusung nominasi atas kategori The Best Current Affairs Program. Kami kemudian berpencaran.

Sesuai rencana pukul 07.30 PM, acara gala dinner dimulai, tapi baru mulai pukul 08.00 malam. Acara pengumuman pemenang pun ikut melorot mundur, baru dimulai pukul 10.30, hohoho.

Kami duduk dalam meja bundar no 26, muat untuk sepuluh undangan. Kami berempat, berbagi meja dengan, Tim Talk Asia CNN International, Hongkong, TV Munhwa Korea dan Tim Asia Uncut, Star World Singapore. Makan malam diisi dengan mendengarkan musik Jazz ringan tapi dengan volume sound system yang keras, jadi pembicaraan dengan penghuni meja harus dengan mendekatkan kepala dan suara yang lebih keras. Pembicaraan tentu saja diisi dengan tanya jawab program masing-masing yang masuk nominasi.Rupanya di meja 26 tempat kita gala dinner, ada dua presenter yang masuk nominasi, yakni Anjali Rao dari CNN dan Jon Niermann dari Star World. Tim Korea dan Indonesia mewakili program.

Huh… akhirnya tiba saatnya pengumuman, dan pembawa acaranya mengawali dengan minta maaf bahwa acara mundur kurang lebih satu setengah jam… nah akibatnya itu membuat susunan acara ada yang harus dihilangkan… apakah itu? Aha… ternyata tidak ada winning speech!

Pengumuman berlangsung sangat cepat. Nominasi disebut dan di layar lebar akan muncul cuplikan tayangan sekitar 10 detik. Setelah itu langsung dibacakan pemenang. Jika pada tahun sebelumnya ada tiga kriteria pemenang yaitu Winner, Runner Up dan Hinghly Commended, tahun 2009 ini pemenangnya hanya dua criteria pemenang yaitu Winner dan Highly Commended.

Saat dibacakan nominasi, muncul tepuk tangan dan dukungan, setelah diliat-liat masing-masing Negara mendukung TV asal negaranya yang masuk nominasi. Yang paling seru berteriak mendukung adalah peserta dari India. Dari Indonesia hanya ada dari ANTV empat orang dan Metro TV tiga orang. Pada saat di selasar kami sudah berjanji akan saling mendukung, tapi alamak.. saat dibacakan nominasi dukungan kami tertelan besarnya ruang gala dinner, … nyaris tak terdengar!

Najwa Shihab, diumumkan sebagai Hinghly Commended untuk The Best Current Affairs Presenter, saat tepuk tangan kami untuk Najwa belum usai ternyata pemenangnya teman satu meja kami, Anjali Rao dari CNN, hehehe… Akhirnya tepuk tangan aja terus.

Satu per satu nominasi dibacakan…. Huh, … masih panjang daftar antriannya. Kira kira setengah jam setelah Najwa diumumkan, tiba saat pengumuman nominasi untuk The Best Current Affairs Program.

Nominasinya adalah:

Poisoning the Poor, Electronic Waste in Ghana,Daehan Mediaworld, Korea.
Drugs Business Inside Prison Cell PT. Cakrawala Andalas Televisi Indonesia.
I Survived ABS-CBN Broadcasting Corporation,Philippines.
Man Made Marvels - Sydney Opera House Discovery Networks Asia-Pacific,Singapore.
PD Notebook - Barricaded Plaza, Human Rights in Custody, Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) Korea.

Setelah seluruh nominator disebut, langsung saja diumumkan bahwa peraih Highly Commended adalah ANTV, dan lagi-lagi tepuk tangan nyaris tak terdengar… selanjutnya pemenang utamanya adalah Sunday Report: Sichuan Earthquake One Year On The Unspeakable Truth Television Broadcasts Limited, Hong Kong, tepuk tangan dukungannya juga tak terdengar seseru kalau TV India yang menang…

Alhamdulillah menang dan dapat Highly Commended, walaupun dari semula aku yakin akan jadi pemenang utama.

Aku inget dengan keyakinan Senior Manager Animax yang ngobrol dengan aku saat di selasar tentang program kita yang masuk nominasi, dengan logat Inggris Singapore dia dengan yakin berujar : You will win, you will win… I bet for you! I bet for you… I bet for you!!!... sama yakinnya dengan aku bahwa Telisik akan menjadi The Winner.

….Still… there must be sunshine after rain!!!

Senin, 07 Desember 2009

Mengintip ATA

Firman hampir gagal masuk ke Singapore.

Lima menit lagi, batas boarding pesawat Singapore Airlines tujuan Singapore tertutup. Bergegas dengan seluruh tas dan bawaan yang ditenteng, sedikit lari-lari kecil, mengantar kami menaiki pesawat yang berangkat pukul 06.15 WIB… huups.

Aku berangkat bertiga bersama Eva dan Firman ke Singapore pagi itu, 3 Desember 2009. Tujuannya menghadiri gala dinner Asian TV Awards (ATA) ke 14 di Singapore. ATA adalah penghargaan tertinggi tingkat Asia untuk program dan presenter terbaik. ANTV menjadi satu-satunya stasiun TV yang meloloskan programnya dalam nominasi ATA. Episode “Drugs Business inside Prison Cell” masuk nominasi kategori The Best Current Affairs Program.

Sebelum berangkat ada sedikit kejutan… ternyata paspornya Firman-kamerawan yang terlibat dalam pembuatan program Telisik-, tinggal dua bulan lagi padahal Indonesia memberlakukan orang asing yang masuk ke Indonesia paspornya minimal masih valid hingga enam bulan sejak kedatanganya.

Akhirnya pihak Singapore Airline menawarkan surat perjanjian tidak akan melakukan klaim atas tiket bila ternyata sang penumpang alias Firman, tidak bisa masuk ke Singapore dengan alasan Singapore memberlakukan hal yang sama… dengan cepat kita setujui surat perjanjian itu, yang penting berangkat aja dulu ke Singapore.

Di atas pesawat, Firman kita takut-takuti bahwa bila dia kalau sampai nggak bisa masuk ke Singapore, dia terpaksa tidur di bandara Changi dan kita akan rutin mengirimi nasi bungkus pada jam makan siang dan makan malam… hahaha.

Selain itu, biar tidak malu ketahuan tidak masuk ke Singapore, kita juga berjanji tidak akan cerita ke temen-temen kantor… huehehe… Firman senyum-senyum kecut, nggak jelas apakah menganggap lucu atau malahan stress mikirin nasibnya.

Nah… sampai di bandara Changi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Saat turun dari pesawat suasana masih cerah tetapi setelah sekitar 10 menit berjalan meuju ke area pemeriksaan imigrasi, raut muka Firman pelan-pelan menjadi lebih putih kepucat-pucatan, becandaan kami sudah tidak ditanggapi lagi… dan akhirnya giliran Firman diperiksa oleh petugas.

Aku dan Eva menunggu kurang lebih lima meter dari Firman. Aku dan Eva sebenarnya sudah menyiapkan jurus apabila Firman nggak boleh masuk ke Singapore, kami kan menyakinkan pihak imigrasi dengan menunjukkan bukti bahwa kami adalah nominasi yang diundang oleh pihak ATA untuk hadir dalam gala dinner di Singapore. Jurus lain adalah dengan menunjukkan bahwa kami mengantungi kode booking untuk kepulangan kami ke Indonesia dengan Singapore Airlines keesokan harinya (tapi jurus-jurus itu kami sengaja kami sembunyikan dari Firman…, hehehe… sorry bung). Beberapa saat kemudian muka Firman lebih putih lagi saat paspornya diperiksa, aku dan Eva bisik-bisik bahwa muka Firman semakin pucat…

Aku iseng minta ke Eva, “ Va, foto Firman tuch…, mukanya lucu”. Eva dengan cepat mengeluarkan kamera saku dan bersiap memotret Firman, saat bersamaan aku mencoba lebih mendekat ke arah Firman. Tiba-tiba ada teriakan cukup keras dari arah Security, aku menoleh ke Security person itu. Mata sang Security melotot ke arah Eva, pandangan dengan cepat aku buang ke Eva, dan ternyata dia menegur Eva yang akan mengambil foto Firman. (upss, kita lupa di Bandara tidak dibolehkan mengambil foto)… nggak jadi dech dapat barang bukti Firman sedang diperiksa di Imigrasi dengan raut muka yang aneh.

Akhirnya, petugas Imigrasi setelah berkonsultasi dengan petugas yang lebih tinggi wewenangya memberi toleransi, bahwa Firman hanya maksimum 7 hari di Singapore, kalau tidak akan dicari petugas kepolisian dan Imigrasi Singapore. Firman setuju, aku yang sudah dekat dengan meja petugas imigrasi hingga bisa mendengar tawaran itu, juga menambahkan persetujuanku. Surat perjanjian disepakati … Firman selamat dan perlahan darah mengalir kembali ke wajah Firman.


Bersambung
….. Telisik mendapat penghargaan Highly Commended Program.

Minggu, 01 November 2009

Two Big Bangs in a Week

Alam semesta dinamis, bergerak, hidup, tidak statis. Kalau menurut ahli Fisika Nuklir berdarah Rusia-Amerika, George Gammow, alam semesta pada intinya adalah nuklir yang bergerak, padat dan panas. Bergerak sangat cepat, dan melahirkan dentuman yang maha dahsyat, awal terciptanya semesta… Huhhh…

Aku berhenti mengingat Big Bang sampai disini…

Minggu ini ada dua Big Bang dalam hidup. Satu, cerita fabel ngalor-ngidul dengan salah satu teman (yang ceritanya patut dipercaya) satu bulan lalu, tentang Bank Century, mendapatkan sedikit alur logika kebenarannya, aku namakan cerita ini dengan “Fabel Cemani”. Bing bang yang kedua, “What a World, My Real Big Bang”.

Cerita pertama...

FABEL CEMANI

“Lam , bisa ketemu nggak, ada info…”, rasanya tidak ada yang menghentikan aku untuk menerima info, jadi aku jawab aja dengan “Okey, jam berapa? dimana?”.

Jam lima sore, dia atas ojek di tengah kemacetan Jakarta yang membuncah, HP-ku bergetar, “Lam, aku di Oak Wood…”, disebutnya dengan pronounciation yang sangat jelas …Ooaakk… Wuud. Dua menit kemudian kami sudah bertemu, sahabat lama yang kuhormati.

Begini ceritanya dalam versi Fabel...

Suatu hari seorang raja harimau akan menyelenggarakan sayembara, sang raja perlu telur untuk memenangkan sayembara itu. Dipanggillah dua orang kancil yang pandai berdagang untuk membantu raja harimau.

Sang raja harimau memerlukan dua butir telur. Tapi raja tak mungkin mencurinya. Aha… tentu saja kancil pandai untuk melakukannya. Sebenarnya dua ekor kancil ini memiliki empat butir telur, tapi dia akan membantu raja harimau tidak dengan telur-telur mereka. Para kancil akan membantu raja harimau dengan telur yang dimiliki oleh Paguyuban Pedagang Pasar. Paguyuban Pedagang Pasar adalah paguyuban yang patuh dengan raja harimau, tapi tidak boleh membantu sang raja harimau.

Bagaimana cara mendapatkannya? Para kancil berpikir harus menggunakan lumbung desa sebagai perantara. Lumbung ini juga berisi telur bukan hanya beras. Nama lumbung itu adalah Lumbung Cemani. Cara yang dipilih oleh para kancil adalah memasukkan empat telur mereka ke dalam Lumbung Cemani, setelah itu mereka akan mengambilnya lagi secara tiba-tiba dan membuat kehebohan di dalam lumbung. Pada periode waktu yang telah ditentukan maka telur-telur di lumbung dikosongkan, diambil kembali oleh para kancil tapi tentu saja dengan sedikit tipu-tipu muslihat agar suasana lumbung menjadi panik.

Benar saja, tak lama setelah setelah telur di lumbung dikosongkan terjadi kepanikan. Nah.., pada situasi panik itulah Paguyuban Pedagang Pasar, menyetor telur pengganti. Jumlahnya enam telur. Loh… kok lebih? Aha… ternyata dua telur itu akan diberikan kepada sang raja harimau.

Akhirnya skenario dari para kancil berhasil. Empat telur mereka tidak hilang dan dua telur bisa diberikan kepada raja harimau…. Hahaha… hebaaat!!!

Oo… nanti dulu ternyata ada yang mendengar rencana itu. Orang yang mendengar itu ternyata dari Paguyuban lain, paguyuban para cicak. Siapa yang bisa mengalahkan cicak, apakah biawak? Komodo? Buaya? Atau mungkin Pak-aya?

Kami akhirnya sama-sama tertawa dengan teka-teki fabel yang tak berujung tapi makin memanas…bang!!!

Pada ceritaku yang kedua, ingatanku pada teori Big Bang berlanjut, tidak hanya berhenti pada… bang!!! tapi pasca terjadinya...bang!!! itu...

Cerita Kedua...

WHAT A WORLD, MY REAL BIG BANG

Big Bang keduaku terjadi dalam minggu ini peristiwa maha besar, otak, hati, waktu dan tubuhku berputar keras dan cepat menuju pada intinya hidup, nuklirnya hidup, cinta, berada pada kerapatan dan panas tak terkira dan...bang!!!… meledak dan mengembang dengan laju pengembangan yang kritis,yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya segera mengerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kosong,…semua menjadi baru, semesta baru…

Setelah itu alam semesta yang tercipta, akan mengembang, dan terus, dan terus, beribu-ribu juta tahun… aku akan menjaga semestaku, … menjaganya, memastikannya bahwa “Big Bang-ku” tidak akan sia-sia…. What a world, my real big bang!!!

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017 Oleh: Alam Burhanan Virginia, USA Mendengar kabar ada serangan yang mematikan, mende...