Tanggal 2 September 2009, sekitar pukul 3 sore kurang dikit, Jakarta digoyang gempa. Gempanya berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, tapi getarannya lumayan menciutkan nyali.
Aku sedang menghadap komputer saat gempa terjadi, semula terasa gelombang tranversal gempa mengguncang kiri-kanan tubuh. Lalu aku berdiri dan ternyata hantamannya tidak berhenti malah lebih besar. Spontan banyak teriakan muncul, takbir juga berkumandang dimana-mana. Semua berebutan mencari pintu keluar. Tangga darurat dituju beramai-ramai, berhimpitan, sementara getaran masih terasa.
Sebelum menuju tangga darurat aku sempat berpikir apakah aku bertahan saja di ruangan, toh... bila gempa semakin kuat tangga darurat pintu tidak bisa menjadi penyelamat. Pasrah, beberapa detik, namun dorongan dan arus orang yang menuju pintu darurat mengantarkan aku ke pintu darurat juga akhirnya. Tapi kepasrahan beberapa detik membuat, lebih tenang…
Suasana dekat dengan ketidakpastian pernah juga aku alami pada tahun 2004, saat ikut rombongan pasangan calon presiden Wiranto dan wakil presiden Solehuddin Wahid.
Saat itu pasangan capres-cawapres baru saja menyelesaikan kampanye putaran terakhir di Medan, Sumatra Utara. Kami bertolak dari Bandar udara Polonia, Medan, sore hari. Pesawat yang digunakan adalah pesawat carter, jenisnya kalau tidak salah foker 28. Aku sebenarnya berangkat berdua dengan kamerawan Andi Azril, tapi Azril memilih tinggal semalam dulu di Medan, aku memutuskan ikut rombongan pulang ke Jakarta.
Cuaca di bandara Polonia cerah. Pesawat take off dengan mulus. Di dalam pesawat ada pasangan capres-cawapres, Wiranto dan Solehuddin Wahid. Banyak petinggi Partai Golkar juga ikut dalam pesawat carter ini, sebut saja, Akbar Tandung, Fahmi Idris dan lain-lain. Kursi pesawat tidak terisi semuanya, aku mengambil posisi di tengah, samping kananku kursi kosong.
Sepuluh menit terbang, udara gelap menghadang. Pesawat terguncang hebat, di luar yang terlihat hanya gelap, pekat. Dua orang pramugari saat pesawat masuk ke dalam turbulensi udara, sedang membagikan makanan kecil dan permen. Tiba-tiba pesawat seperti tersedot ke bawah, terasa dalam dan membuat tubuh terlonjak ke atas.
Salah seorang pramugari yang sedang membagikan makanan, langsung duduk di sebelahku. Tatapannya penuh ketakutan, dipakainya safety belt dengan cepat. Tidak ada suara di dalam kabin, hanya guncangan hebat yang terasa. Beberapa barang di kabin terhambur.
Tiba-tiba sedotan udara kembali menurunkan ketinggian pesawat, jantung seperti terlonjak keluar, aku berdoa dalam hati, bila aku memang harus mati di sini. Pramugari yang duduk di sampingku melafadzkan “astaghfirullah”, berkali-kali, semakin berguncang suaranya semakin keras.
Jantungku seperti berhenti memompa darah. Cuaca jelek belum terlampaui, tapi aku beranikan bertanya ke pramugari, apakah kejadian seperti ini pernah dialami sebelumnya. Dia menjawab dengan terengah bahwa pengalaman udara buruk seperti ini baru kali ini dialaminya. Aku jadi takut mendengarnya. Pramugari yang setiap hari terbang pun ketakutan.
Pesawat masih juga berguncang keras, tarikan pesawat ke bawah berkali-kali menghentikan denyut jantung, keringat dingin mengalir. Rasa takut mencekam. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah. Terbayang di depanku bahwa aku akan menjadi bagian dari berita besar jatuhnya pesawat yang membawa petinggi parti Golkar. Turbulensi udara masih kuat.
Sekitar 5 menit, terdengar suara mesin mengeras.Semakin lama semakin keras dan akhirnya terdengar suara seperti hentakan, tiba-tiba guncangan berhenti, ada sinar dari balik jendela. Ternyata pesawat berhasil melampaui cuaca buruk. Pramugari di sampingku masih tertunduk.
“Bravo, selamat….”, suara Ruhut Sitompul menggelegar memecah kesunyian, tepuk tangan menggema di dalam pesawat. Ruhut pengacara dengan kuncir rambut dan pernah menjadi “si raja minyak” dalam sebuah sinetron, tertawa lepas, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat itu Ruhut masih menjadi asisten Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
Hampir seluruh penumpang kemudian berdiri, bertepuk tangan, pujian kepada sang pilot terlontar dimana-mana… suasana persis seperti baru saja meraih kemenangan besar.
Almost everything we call "higher culture" is based on the spiritualization and intensification of cruelty- this is my proposition; the "wild beast" has not been laid to rest, it lives, it flourishes, it has merely become-deified.(Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, 1885).
Kamis, 03 September 2009
Selasa, 01 September 2009
Sejati Cinta Drug-Dealers (Fiksi)
Bagian 3, by AB
Puluhan warga berkerumunan di depan pagar saat sinar matahari baru saja datang menyambar. Cahaya matahari hangat, dan mampu untuk menguapkan buliran lembut embun di atas dedaunan. Tapi puluhan warga nampak beringas, garang, seolah mereka datang dari dunia yang terberkati dengan berjuta kebencian.
Tak ada salam, yang terdengar adalah ketukan batu di pagar besi. Sebagian lagi berteriak melengking, “Ayo keluar, keluaaarrr!!!”. Tak ada jawaban dari dalam. Teriakan hanya dibalas dengan padamnya lampu teras depan karena saklarnya ditekan oleh sang pria.
“Kamu disini saja….” bisik sang pria tenang, sang perempuan pun tenang. Tak tahu mengapa sepasang kekasih itu sama-sekali tak ada takut, mungkin masih terpengaruh putau.
Sejurus kemudian sang pria keluar dari pintu depan dan berjalan ke arah pagar. Kepalanya diangkat, dagunya sedikit terdongak. Matanya menyipit, tersilau matahari. “Ada apa pak?” katanya tenang sambil membuka pagar. Ketenangannya menggetarkan warga yang sedari tadi tampak marah.
Lima detik berlalu tanpa ada jawaban, tiba-tiba hanya ada rengekan anak usia sekolah dasar yang meminta agar ayahnya pulang. “yah, ayo pulang… nanti aku terlambat ke sekolah”. Tidak ada jawaban yang menenangkan sang bocah.
Ada suara yang menyambar cepat, “Begini mas, tadi malam saya melihat ada semacam pesta narkoba di sini…, dan ada penghuni lain selain anda. Kami sebagai warga merasa terganggu”. “Oh, jadi mas ya, yang mengajak warga ke sini?”. Tak ada jawaban kemudian.
“Kami akan memeriksa rumah ini…!!!” desak yang lain. “iya, kami akan periksa saudara!!!”. “ayo kita masuk saja!!!”, suara desakan bertalu-talu.
“Bapak-bapak, saya menghormati bapak-bapak dengan norma-norma yang bapak anggap baik, saya menghormati keinginan bapak agar daerah ini bersih… tetapi mengapa bapak-bapak ingin masuk rumah saya padahal itu melanggar”. Sihir apa yang muncul sehingga warga terdiam, mungkin bingung dengan yang dinamakan norma.
“Begini saja bapak-bapak, saya akan mempersilahkan bapak masuk, tapi harus didampingi oleh polisi yang membawa surat tugas”. Suara kerumunanan warga kemudian bersahutan meninggi.
“Jadi kamu nantangi kita!!!, kamu sudah merasa paling jago!!!... awas kamu!!!”. Sekonyong-konyong sebuah pukulan mendarat keras di pipi kanan sang pria, dia bergeming. Tak dibalasnya pukulan itu, karena pasti warga lain akan marah. Sebuah jotosan lagi dilayangkan tapi kali ini ditangkis oleh warga lain yang sedari tadi tampak diam saja. “Sudah, jangan!!!, tidak ada gunanya memukuli dia”.
Sang pria mundur satu langkah ke belakang dengan menggeser kaki kanannya ke belakang. Warga yang menangkis pukulan tadi, sigap menggeser kaki kanannya pula. Kini posisi sang pria dan warga yang menangkis pukulan berhadap-hadapan dengan kesigapan masing-masing. Suasana menegang.
Lambaian tangan sang warga kemudian menghampiri pundak kiri sang pria, “Mas, kita warga sini tidak suka ada yang melanggar hukum dan mempengaruhi warga yang lain dengan pengaruh buruk. Sekarang kami akan membubarkan diri, tapi kalau anda terlihat berbuat jahat, ingat… anda akan berhadapan dengan saya”. Sang pria menundukm dijulurkannya tangannya menjabat tangan sang warga yang menangkis pukulan.
Akhirnya warga bubar. Sang pria menghela nafas, terpikir olehnya kata-kata sang warga bahwa kalau dia berbuat jahat maka dia akan berhadapan dengan warga itu. Huuh… betapa ucapan tadi mampu melokalisir kemarahan warga menjadi hanya di tangan sang warga penangkis pukulan.
Kepala perempuannya menyembul dari balik pintu kayu berwarna hijau pudar. Sang pria menghampirinya dengan tersenyum. Tidak ada pertanyaan dari sang perempuan, tidak ada percakapan setelahnya. Mereka lalu beringsut pergi ke kamar. Tidur dilanjutkan.
Puluhan warga berkerumunan di depan pagar saat sinar matahari baru saja datang menyambar. Cahaya matahari hangat, dan mampu untuk menguapkan buliran lembut embun di atas dedaunan. Tapi puluhan warga nampak beringas, garang, seolah mereka datang dari dunia yang terberkati dengan berjuta kebencian.
Tak ada salam, yang terdengar adalah ketukan batu di pagar besi. Sebagian lagi berteriak melengking, “Ayo keluar, keluaaarrr!!!”. Tak ada jawaban dari dalam. Teriakan hanya dibalas dengan padamnya lampu teras depan karena saklarnya ditekan oleh sang pria.
“Kamu disini saja….” bisik sang pria tenang, sang perempuan pun tenang. Tak tahu mengapa sepasang kekasih itu sama-sekali tak ada takut, mungkin masih terpengaruh putau.
Sejurus kemudian sang pria keluar dari pintu depan dan berjalan ke arah pagar. Kepalanya diangkat, dagunya sedikit terdongak. Matanya menyipit, tersilau matahari. “Ada apa pak?” katanya tenang sambil membuka pagar. Ketenangannya menggetarkan warga yang sedari tadi tampak marah.
Lima detik berlalu tanpa ada jawaban, tiba-tiba hanya ada rengekan anak usia sekolah dasar yang meminta agar ayahnya pulang. “yah, ayo pulang… nanti aku terlambat ke sekolah”. Tidak ada jawaban yang menenangkan sang bocah.
Ada suara yang menyambar cepat, “Begini mas, tadi malam saya melihat ada semacam pesta narkoba di sini…, dan ada penghuni lain selain anda. Kami sebagai warga merasa terganggu”. “Oh, jadi mas ya, yang mengajak warga ke sini?”. Tak ada jawaban kemudian.
“Kami akan memeriksa rumah ini…!!!” desak yang lain. “iya, kami akan periksa saudara!!!”. “ayo kita masuk saja!!!”, suara desakan bertalu-talu.
“Bapak-bapak, saya menghormati bapak-bapak dengan norma-norma yang bapak anggap baik, saya menghormati keinginan bapak agar daerah ini bersih… tetapi mengapa bapak-bapak ingin masuk rumah saya padahal itu melanggar”. Sihir apa yang muncul sehingga warga terdiam, mungkin bingung dengan yang dinamakan norma.
“Begini saja bapak-bapak, saya akan mempersilahkan bapak masuk, tapi harus didampingi oleh polisi yang membawa surat tugas”. Suara kerumunanan warga kemudian bersahutan meninggi.
“Jadi kamu nantangi kita!!!, kamu sudah merasa paling jago!!!... awas kamu!!!”. Sekonyong-konyong sebuah pukulan mendarat keras di pipi kanan sang pria, dia bergeming. Tak dibalasnya pukulan itu, karena pasti warga lain akan marah. Sebuah jotosan lagi dilayangkan tapi kali ini ditangkis oleh warga lain yang sedari tadi tampak diam saja. “Sudah, jangan!!!, tidak ada gunanya memukuli dia”.
Sang pria mundur satu langkah ke belakang dengan menggeser kaki kanannya ke belakang. Warga yang menangkis pukulan tadi, sigap menggeser kaki kanannya pula. Kini posisi sang pria dan warga yang menangkis pukulan berhadap-hadapan dengan kesigapan masing-masing. Suasana menegang.
Lambaian tangan sang warga kemudian menghampiri pundak kiri sang pria, “Mas, kita warga sini tidak suka ada yang melanggar hukum dan mempengaruhi warga yang lain dengan pengaruh buruk. Sekarang kami akan membubarkan diri, tapi kalau anda terlihat berbuat jahat, ingat… anda akan berhadapan dengan saya”. Sang pria menundukm dijulurkannya tangannya menjabat tangan sang warga yang menangkis pukulan.
Akhirnya warga bubar. Sang pria menghela nafas, terpikir olehnya kata-kata sang warga bahwa kalau dia berbuat jahat maka dia akan berhadapan dengan warga itu. Huuh… betapa ucapan tadi mampu melokalisir kemarahan warga menjadi hanya di tangan sang warga penangkis pukulan.
Kepala perempuannya menyembul dari balik pintu kayu berwarna hijau pudar. Sang pria menghampirinya dengan tersenyum. Tidak ada pertanyaan dari sang perempuan, tidak ada percakapan setelahnya. Mereka lalu beringsut pergi ke kamar. Tidur dilanjutkan.
Senin, 31 Agustus 2009
Beruntung di Skuddai
Kompleks Taman Teratai, tidak jauh dari Universitas Tehnologi Malaysia-UTM, di kawasan Skuddai, Johor. Perumahan yang dekat dengan Taman University UTM ini asri. Pepohonan besar masih betah menancapkan akar-akarnya di kawasan perumahan.
Awal November 2005, matahari pagi masih hangat saat kami menyambangi rumah Doktor Azahari di perumahan ini. Satu hari sebelumnya kami telah mencari informasi dan lokasi rumah “Sang Bomber dari Skuddai”. Namun karena terlalu malam untuk bertamu, kami memutuskan untuk datang pagi itu. Rumah itu bercat putih gading, posisinya di sudut blok dengan luas tanah sekitar 300-400 meter persegi. Terdapat taman di sisi depan dan samping rumah.
Berkali-kali memanggil, tidak ada balasan. Gonggongan anjing juga mulai mengganggu kami yang terus berada di pagar luar rumah. Akhirnya setelah berkali-kali mengucapkan salam, ada seorang ibu muda keluar rumah dan menanyakan maksud kedatangan kami dengan suara yang agak tinggi. Kami jelaskan bahwa kami ingin bertamu dan menanyakan rumah yang dulu sempat ditinggali Doktor Azahari. Dia tetap mengaku tidak kenal dan mengancam kami, andai kami tidak pergi dari rumah itu, maka kami akan dilaporkan ke petugas pengamanan kompleks. Dia juga mengaku melihat kamerawan mengambil gambar lokasi rumah, dan dia mengaku terganggu dengan aksi itu.
Jarak kami cukup jauh, kami berada di luar pagar dan si wanita berada di dekat pintu utama, jaraknya sekitar sepuluh meter. Tapi terkadang keberuntungan ada pada kami. Tiba-tiba ada mobil datang, setelah membuka pagar, mobil parkir di carport. Aku menyapa.
Lalu percakapan kami berlangsung persis seperti perbincangan kami dengan sang wanita, sang wanita mendekat. Rupanya mereka adalah pasangan suami istri, umur mereka sekitar 40-an tahun. Kami kemudian diajak masuk oleh sang suami dan duduk di teras rumah yang asri.
Lantai teras dibuat dari paduan keramik yang dipasang berselang seling dengan daun pohon sukun yang dicetakkan ke atas semen. Kami mengelilingi sebuah meja bundar kecil dengan empat tempat duduk. Perbincangan berlangsung lebih santai, tidak ada hidangan karena saat itu sedang bulan puasa.
“Pak Cik kenal dengan Azahari?” kataku. Pasangan suami-istri saling pandang dan mengaku tidak mengenal tapi tahu Doktor Azahari. Mereka lalu menambahkan mereka tidak ingin terganggu dengan keberadaan Azahari.
“Bukankah pak Cik tinggal di rumah yang dulu adalah rumah Azahari?”. Mereka mengaku membeli rumah itu tanpa tahu siapa pemiliknya. Jawaban yang aneh. Mereka mengaku di dokumen rumah tidak tercatat atas nama Azahari. Dan berkali-kali mereka mengaku terganggu dengan kehadiran orang-orang yang mencari Doktor Azahari. “Siapa mereka?” tanyaku. Mereka mengaku tidak tahu, mereka baru satu kali menerima tamu yang mencari Azahari, dan tamu itu adalah kami… huhhh thanks God!
Setelah perbincangan yang ngalor-ngidul dari masalah makanan berbuka puasa, suasana ramadhan di Indonesia sampai ke aktivitas politik di Indonesia. Sang Suami kemudian mengaku mengenal mantan ketua PB HMI Ferry Mursyidan Baldan, ahaa…. kami pun mengaku mengenal Ferry Mursyidan dan menjelaskan bahwa Ferry sudah menjadi anggota DPR dari Golkar. Ternyata sang suami dulu zaman mahasiswanya dulu pernah menjadi aktivis muslim. Perbincangan berubah menjadi sangat menyenangkan.
Sang suami lalu menuliskan nama mereka di atas kertas yang diambilkan oleh sang istri, lengkap dengan alamat dan nomor telepon mereka. Aku menyerahkan kartu nama dan memberi nomor telepon Ferry Mursyidan kepada sang suami.
Tidak ada wawancara, dan mereka berjanji akan menghubungi kami kalau suatu saat berkunjung ke Jakarta. Kami mendapat kepastian bahwa rumah yang saat ini mereka tempati adalah rumah yang dulu ditempati Doktor Azahari, sang suami akhirnya mengaku dengan tersenyum kecil.
Tono mengajak mencari masjid sebelum kami menuju ke UTM. Di parkiran masjid saat kami akan beranjak pergi ke UTM, kami berpapasan dengan seorang laki-laki dewasa, dia menyapa. Kami membalas sapaan. Perbincangan berlanjut dengan menjelaskan maksud liputan kami di Negara bagian Johor.
Keberuntungan masih memihak kami. Setelah kami menjelaskan bahwa tujuan kami selanjutnya adalah UTM sang laki-laki meminta kami agar membuntuti mobilnya, dia akan ke UTM juga. Kami menurutinya.
Setiba di gerbang kampus UTM, ada pemeriksaan dari petugas pengamanan kampus. Sang laki-laki menunjuk kearah mobil kami, kami masuk tanpa ada pemeriksaan. Kami kemudian dibawanya menuju Fakultas Teknik dan Geoinformasi, tempat Azahari dulu mengajar. Tangannya kembali menunjuk ke plang Fakultas, memberi kode bahwa itu tujuan kami, dia lalu memacu mobilnya meninggalkan kami.
Seperti refleks Tono lalu mengambil gambar Fakultas. Beberapa kegiatan mahasiswa tak luput dari bidikan lensa Tono. Mahasiswa-mahasiswi kami tanyai tentang Azahari, hampir semua mengaku tidak tahu kalaupun ada yang bersedia diwawancara mereka hanya menjelaskan kegiatan Azahari secara umum dalam proses belajar-mengajar. Kami merasa sudah memiliki gambar permulaan yang cukup, aku lalu mengajak Tono untuk menemui Dekan Fakultas Teknik dan Geoinformasi.
Kami menuju ruang dekan, dan tanpa ba-bi-bu masuk ke sana dan bertemu staff dekan. Ditanyakan apakah kami sudah punya janji, aku menjawab dengan pasti, “sudah.”, padahal belum, hehehe…
Akhirnya dekan keluar, kamera Tono sudah kondisi record. Sang dekan terlihat kaget dengan kehadiran kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Kami jelaskan. Sang dekan tak ingin memberi penjelasan apapun dan meminta kami untuk bertanya ke polisi Malaysia saja. Karena kami belum bersedia ke luar ruangannya walaupun sang dekan sudah menjelaskan kondisinya. Akhirnya sang dekan meminta kami meninggalkan ruangan karena dia akan menerima tamu lain. Kami lalu pergi.
Lalu kami menuju ke perpustakaan kampus yang bersebelahan dengan masjid kampus. Tono lalu mengambil gambar kegiatan mahasiswa dan masjid kampus dan olalaa…. sebuah mobil patroli satuan pengamanan internal kampus datang dengan tergesa. Tiga orang personil pengamanan mendekati kami dan meminta Tono menghentikan merekam gambar. Kami setuju.
Mereka memaksa kami untuk ikut ke dalam mobil patroli. Aku tidak bersedia. Tawar-menawar, akhirnya kami tidak jadi masuk dalam mobil patroli.
Di dalam mobil, aku meminta Tono segera mengganti kaset. Kaset diganti dan segera mengambil gambar lain sekenanya, “ Ambil sebanyak-banyaknya… apa aja, sekenanya Ton…”, Tono sigap merekam gambar.
Benar saja, kami dibawa ke ruangan komandan pengamanan kampus.
Benar saja, sang dekan melaporkan kami ke petugas pengamanan.
Dan benar saja kami diminta memutar gambar apa saja yang sudah kami ambil.
Kali ini Tono dengan tenang mempreview kaset dari kamera. Kami menonton sama-sama. Kami jelaskan bahwa baru saja mengambil gambar saat petugas keamanan datang. Dan sim salabim mereka percaya…
Sang komandan menjelaskan bahwa pihak umum harus mendapat ijin saat masuk lingkungan UTM dan tidak diperbolehkan mengambil gambar di lingkungan kampus. Aku mengaku tidak tahu.
Komandan lalu menjelaskan bahwa mobil kami diperbolehkan dan tidak diperiksa karena ada dosen UTM yang menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswanya. Aku ingat laki-laki yang bertemu di masjid pada siang hari dan meminta kami membuntuti mobilnya. Rupanya dia salah seorang dosen di UTM dan saat dia menunjuk ke arah mobil kami, dia menjelaskan ke petugas pengamanan bahwa kami adalah mahasiswanya… wowwww cool….
Kartu pers dan KTP kami diminta untuk mereka fotocopy, kartu nama kami mereka minta. Sekitar 30 menit KTP dan kartu pers kami dikembalikan, kami langsung mencelat kabur dari kampus UTM saat langit sudah mulai berwarna jingga.
Hhmmmm…hari yang beruntung….
Awal November 2005, matahari pagi masih hangat saat kami menyambangi rumah Doktor Azahari di perumahan ini. Satu hari sebelumnya kami telah mencari informasi dan lokasi rumah “Sang Bomber dari Skuddai”. Namun karena terlalu malam untuk bertamu, kami memutuskan untuk datang pagi itu. Rumah itu bercat putih gading, posisinya di sudut blok dengan luas tanah sekitar 300-400 meter persegi. Terdapat taman di sisi depan dan samping rumah.
Berkali-kali memanggil, tidak ada balasan. Gonggongan anjing juga mulai mengganggu kami yang terus berada di pagar luar rumah. Akhirnya setelah berkali-kali mengucapkan salam, ada seorang ibu muda keluar rumah dan menanyakan maksud kedatangan kami dengan suara yang agak tinggi. Kami jelaskan bahwa kami ingin bertamu dan menanyakan rumah yang dulu sempat ditinggali Doktor Azahari. Dia tetap mengaku tidak kenal dan mengancam kami, andai kami tidak pergi dari rumah itu, maka kami akan dilaporkan ke petugas pengamanan kompleks. Dia juga mengaku melihat kamerawan mengambil gambar lokasi rumah, dan dia mengaku terganggu dengan aksi itu.
Jarak kami cukup jauh, kami berada di luar pagar dan si wanita berada di dekat pintu utama, jaraknya sekitar sepuluh meter. Tapi terkadang keberuntungan ada pada kami. Tiba-tiba ada mobil datang, setelah membuka pagar, mobil parkir di carport. Aku menyapa.
Lalu percakapan kami berlangsung persis seperti perbincangan kami dengan sang wanita, sang wanita mendekat. Rupanya mereka adalah pasangan suami istri, umur mereka sekitar 40-an tahun. Kami kemudian diajak masuk oleh sang suami dan duduk di teras rumah yang asri.
Lantai teras dibuat dari paduan keramik yang dipasang berselang seling dengan daun pohon sukun yang dicetakkan ke atas semen. Kami mengelilingi sebuah meja bundar kecil dengan empat tempat duduk. Perbincangan berlangsung lebih santai, tidak ada hidangan karena saat itu sedang bulan puasa.
“Pak Cik kenal dengan Azahari?” kataku. Pasangan suami-istri saling pandang dan mengaku tidak mengenal tapi tahu Doktor Azahari. Mereka lalu menambahkan mereka tidak ingin terganggu dengan keberadaan Azahari.
“Bukankah pak Cik tinggal di rumah yang dulu adalah rumah Azahari?”. Mereka mengaku membeli rumah itu tanpa tahu siapa pemiliknya. Jawaban yang aneh. Mereka mengaku di dokumen rumah tidak tercatat atas nama Azahari. Dan berkali-kali mereka mengaku terganggu dengan kehadiran orang-orang yang mencari Doktor Azahari. “Siapa mereka?” tanyaku. Mereka mengaku tidak tahu, mereka baru satu kali menerima tamu yang mencari Azahari, dan tamu itu adalah kami… huhhh thanks God!
Setelah perbincangan yang ngalor-ngidul dari masalah makanan berbuka puasa, suasana ramadhan di Indonesia sampai ke aktivitas politik di Indonesia. Sang Suami kemudian mengaku mengenal mantan ketua PB HMI Ferry Mursyidan Baldan, ahaa…. kami pun mengaku mengenal Ferry Mursyidan dan menjelaskan bahwa Ferry sudah menjadi anggota DPR dari Golkar. Ternyata sang suami dulu zaman mahasiswanya dulu pernah menjadi aktivis muslim. Perbincangan berubah menjadi sangat menyenangkan.
Sang suami lalu menuliskan nama mereka di atas kertas yang diambilkan oleh sang istri, lengkap dengan alamat dan nomor telepon mereka. Aku menyerahkan kartu nama dan memberi nomor telepon Ferry Mursyidan kepada sang suami.
Tidak ada wawancara, dan mereka berjanji akan menghubungi kami kalau suatu saat berkunjung ke Jakarta. Kami mendapat kepastian bahwa rumah yang saat ini mereka tempati adalah rumah yang dulu ditempati Doktor Azahari, sang suami akhirnya mengaku dengan tersenyum kecil.
Tono mengajak mencari masjid sebelum kami menuju ke UTM. Di parkiran masjid saat kami akan beranjak pergi ke UTM, kami berpapasan dengan seorang laki-laki dewasa, dia menyapa. Kami membalas sapaan. Perbincangan berlanjut dengan menjelaskan maksud liputan kami di Negara bagian Johor.
Keberuntungan masih memihak kami. Setelah kami menjelaskan bahwa tujuan kami selanjutnya adalah UTM sang laki-laki meminta kami agar membuntuti mobilnya, dia akan ke UTM juga. Kami menurutinya.
Setiba di gerbang kampus UTM, ada pemeriksaan dari petugas pengamanan kampus. Sang laki-laki menunjuk kearah mobil kami, kami masuk tanpa ada pemeriksaan. Kami kemudian dibawanya menuju Fakultas Teknik dan Geoinformasi, tempat Azahari dulu mengajar. Tangannya kembali menunjuk ke plang Fakultas, memberi kode bahwa itu tujuan kami, dia lalu memacu mobilnya meninggalkan kami.
Seperti refleks Tono lalu mengambil gambar Fakultas. Beberapa kegiatan mahasiswa tak luput dari bidikan lensa Tono. Mahasiswa-mahasiswi kami tanyai tentang Azahari, hampir semua mengaku tidak tahu kalaupun ada yang bersedia diwawancara mereka hanya menjelaskan kegiatan Azahari secara umum dalam proses belajar-mengajar. Kami merasa sudah memiliki gambar permulaan yang cukup, aku lalu mengajak Tono untuk menemui Dekan Fakultas Teknik dan Geoinformasi.
Kami menuju ruang dekan, dan tanpa ba-bi-bu masuk ke sana dan bertemu staff dekan. Ditanyakan apakah kami sudah punya janji, aku menjawab dengan pasti, “sudah.”, padahal belum, hehehe…
Akhirnya dekan keluar, kamera Tono sudah kondisi record. Sang dekan terlihat kaget dengan kehadiran kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Kami jelaskan. Sang dekan tak ingin memberi penjelasan apapun dan meminta kami untuk bertanya ke polisi Malaysia saja. Karena kami belum bersedia ke luar ruangannya walaupun sang dekan sudah menjelaskan kondisinya. Akhirnya sang dekan meminta kami meninggalkan ruangan karena dia akan menerima tamu lain. Kami lalu pergi.
Lalu kami menuju ke perpustakaan kampus yang bersebelahan dengan masjid kampus. Tono lalu mengambil gambar kegiatan mahasiswa dan masjid kampus dan olalaa…. sebuah mobil patroli satuan pengamanan internal kampus datang dengan tergesa. Tiga orang personil pengamanan mendekati kami dan meminta Tono menghentikan merekam gambar. Kami setuju.
Mereka memaksa kami untuk ikut ke dalam mobil patroli. Aku tidak bersedia. Tawar-menawar, akhirnya kami tidak jadi masuk dalam mobil patroli.
Di dalam mobil, aku meminta Tono segera mengganti kaset. Kaset diganti dan segera mengambil gambar lain sekenanya, “ Ambil sebanyak-banyaknya… apa aja, sekenanya Ton…”, Tono sigap merekam gambar.
Benar saja, kami dibawa ke ruangan komandan pengamanan kampus.
Benar saja, sang dekan melaporkan kami ke petugas pengamanan.
Dan benar saja kami diminta memutar gambar apa saja yang sudah kami ambil.
Kali ini Tono dengan tenang mempreview kaset dari kamera. Kami menonton sama-sama. Kami jelaskan bahwa baru saja mengambil gambar saat petugas keamanan datang. Dan sim salabim mereka percaya…
Sang komandan menjelaskan bahwa pihak umum harus mendapat ijin saat masuk lingkungan UTM dan tidak diperbolehkan mengambil gambar di lingkungan kampus. Aku mengaku tidak tahu.
Komandan lalu menjelaskan bahwa mobil kami diperbolehkan dan tidak diperiksa karena ada dosen UTM yang menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswanya. Aku ingat laki-laki yang bertemu di masjid pada siang hari dan meminta kami membuntuti mobilnya. Rupanya dia salah seorang dosen di UTM dan saat dia menunjuk ke arah mobil kami, dia menjelaskan ke petugas pengamanan bahwa kami adalah mahasiswanya… wowwww cool….
Kartu pers dan KTP kami diminta untuk mereka fotocopy, kartu nama kami mereka minta. Sekitar 30 menit KTP dan kartu pers kami dikembalikan, kami langsung mencelat kabur dari kampus UTM saat langit sudah mulai berwarna jingga.
Hhmmmm…hari yang beruntung….
Jumat, 28 Agustus 2009
Lukmanul Hakim, Case Closed!!!
Bulan puasa…, ingatanku sekilas mampir pada puasa di bulan November 2005 silam di Johor Bahru, tepatnya di Pesantren Lukmanul Hakim, Ulu Tiram, Malaysia.
Pondok pesantren ini dilahirkan oleh Amir Jamaah Islamiyah yang pertama Abdullah Sungkar dan sekondannya Abu Bakar Baasyir. Dua tokoh ini keduanya berasal dari Indonesia, kabur, karena akan ditangkap oleh penguasa rezim Soeharto.
Tak lama setelah Azahari tewas di Malang, aku dan kamerawan Anambo Tono menyusuri alur gerakan teroris dan Jamaah Islamiyah di Malaysia.
Tak pelak salah satu sentralnya adalah ponpes Lukmanul Hakim. Di pesantren ini, banyak pelaku pemboman mengajar dan belajar agama di sini, sebut saja Muchlas atau Ali Gufron tereksekusi mati kasus Bom Bali satu dan Noordin M Top.
Menuju Johor Bahru, enam jam kami berkendara mobil dari Kuala Lumpur. Sampe Johor Bahru, sekitar pukul sepuluh malam. Menuju Lukmanul Hakim.
Jalan menuju ponpes, sekitar 30 menit dari pusat keramaian kota Johor Bahru. Setelah melewati perkebunan kelapa sawit, sampailah kami di Gerbang Pondok Pesantren Lukmanul Hakim. Ponpes gelap, police line, melilit gerbang masuk lingkungan ponpes. Saat kamerawan mengambil gambar, aku mencoba mencari pihak yang bisa memberikan informasi, suasana sepi, beberapa rumah yang aku datangi tidak menyahut salam.
Lalu aku melihat sebuah pintu di samping ponpes, aku ajak kamerawan dan sopir yang mengantar kami untuk masuk menerobos masuk. Oke… kami masuk ke samping ponpes dan melihat dari jejeran rumah seperti barak di samping ponpes. Salam kami tidak mendapat sambutan dan jawaban apa-apa. Kami mengatur siasat.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk bersama kamerawan dan sang sopir aku minta untuk menunggu di luar ponpes, memantau situasi dan melaporkan kalau terjadi apa-apa dengan kami di dalam.Wuiih, gelap… kami menerobos masuk ponpes dengan lampu yang dipancarkan dari kamera. Dengan cepat kami melaporkan situasi ponpes malam hari, kamera terus-menerus merecord.
Kami menuju hall, masuk ke dalam kelas-kelas, melihat seluruh ruang belajar, menuju kamar siswa, melihat koleksi buku-buku dan catatan siswa yang tertinggal dan apa saja yang menurut kami menarik. Suasana gelap, sehingga bila tanpa bantuan lampu kamera kami pasti akan kesulitan untuk berjalan di area ponpes yang luasnya (berdasarkan kira-kira aja) sekitar 2 hektar.
Menerobos tanpa izin, ditambah adanya larangan melintas, police line, dari Polisi Diraja Malaysia, membuat kami tegang dan khawatir ketahuan. Namun perasaan itu terkadang menjadi penambah semangat.
Namun tiba-tiba, ada suara motor meraung mendekati ponpes. Sepertinya mereka berhenti di samping ponpes. Kami diam, lampu kamera kami matikan. Suasana masih hening. Kami berharap suara motor itu adalah suara motor warga dan bukan Polisi Diraja Malaysia.
Sekitar 5 menit kemudian, ada suara orang berbincang-bincang dengan suara yang tinggi. Lampu senter kemudian berkilatan menyambar gedung-gedung asrama. Jantung kami berdegup, “Kita dicari Ton”, kataku pada Anambo Tono.
“Cepet ganti kaset Ton,… masukkan kameranya di ranselku aja”. Tono lalu sigap mengganti kaset di kamera dengan kaset baru dan memasukkannya ke dalam ranselku. Suasana gelap gulita. Kami jalan beringsut menghindari kilatan cahaya senter.
Suara orang yang mencari-cari semakin jelas. Degupan jantung semakin kencang. “Semoga bukan polisi ya, Ton… kita bisa di penjara nih”. Tono diam saja. Kami berkomunikasi dengan gerak dan terus menjauhi suara dan lampu.
Kami bergerak terus mendekati pintu keluar, dengan melintasi halaman ponpes yang rumputnya sudah meninggi. Terkadang suara derakan ranting pohon jatuh yang terinjak, mengagetkan dan menghentikan sejenak langkah kami. Kami lalu berhenti agak lama di bawah pohon samping ponpes. Karena merasa sudah agak aman dan tidak ada lagi kilatan cahaya, kami bergerak ke arah pintu keluar.
“Haii, siapa kamu!!!”, tiba-tiba suara menyalak dan senter menyala menerangi kami. Hoooahhh,… kami ketahuan, dan menghentikan langkah. Kami lalu mendekati sumber suara.
“Kami wartawan dari Indonesia…” balasku. Mereka mendekat.
Setelah cukup dekat, kami mendapati enam orang dengan senjata pentungan panjang. Setelah kami amati lagi, dua diantara mereka mengenakan sarung.
Hatiku agak mendingin, karena mereka pasti bukan polisi diraja Malaysia. “Siapa yang kasih izin, masuk!!!” suara pria bersarung meninggi.
“Maaf pak, kami memang menerobos masuk dari pintu samping”, lalu mereka marah-marah. Kami dikira maling dan orang yang kurang ajar karena masuk tanpa izin. Ternyata mereka adalah pengurus ponpes Lukmanul Hakim, mereka masih menjaga asset ponpes yang masih tersisa. Dulu mereka adalah pengajar dan staff ponpes Lukmanul Hakim.
Pertanyaan paling keras adalah perihal maksud liputan kami, apa agama yang kami anut dan darimana asal kami.
Setelah saling mengenal dan mengetahui maksud masing-masing, kami berdamai.Case Closed, Eh… malahan kami dipersilahkan untuk datang lagi keesokan paginya.
Huuhhhh, lega… setelah jantung seperti copot karena merasa dikejar Polisi Diraja Malaysia, akhirnya jantung berdetak kembali.
Pondok pesantren ini dilahirkan oleh Amir Jamaah Islamiyah yang pertama Abdullah Sungkar dan sekondannya Abu Bakar Baasyir. Dua tokoh ini keduanya berasal dari Indonesia, kabur, karena akan ditangkap oleh penguasa rezim Soeharto.
Tak lama setelah Azahari tewas di Malang, aku dan kamerawan Anambo Tono menyusuri alur gerakan teroris dan Jamaah Islamiyah di Malaysia.
Tak pelak salah satu sentralnya adalah ponpes Lukmanul Hakim. Di pesantren ini, banyak pelaku pemboman mengajar dan belajar agama di sini, sebut saja Muchlas atau Ali Gufron tereksekusi mati kasus Bom Bali satu dan Noordin M Top.
Menuju Johor Bahru, enam jam kami berkendara mobil dari Kuala Lumpur. Sampe Johor Bahru, sekitar pukul sepuluh malam. Menuju Lukmanul Hakim.
Jalan menuju ponpes, sekitar 30 menit dari pusat keramaian kota Johor Bahru. Setelah melewati perkebunan kelapa sawit, sampailah kami di Gerbang Pondok Pesantren Lukmanul Hakim. Ponpes gelap, police line, melilit gerbang masuk lingkungan ponpes. Saat kamerawan mengambil gambar, aku mencoba mencari pihak yang bisa memberikan informasi, suasana sepi, beberapa rumah yang aku datangi tidak menyahut salam.
Lalu aku melihat sebuah pintu di samping ponpes, aku ajak kamerawan dan sopir yang mengantar kami untuk masuk menerobos masuk. Oke… kami masuk ke samping ponpes dan melihat dari jejeran rumah seperti barak di samping ponpes. Salam kami tidak mendapat sambutan dan jawaban apa-apa. Kami mengatur siasat.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk bersama kamerawan dan sang sopir aku minta untuk menunggu di luar ponpes, memantau situasi dan melaporkan kalau terjadi apa-apa dengan kami di dalam.Wuiih, gelap… kami menerobos masuk ponpes dengan lampu yang dipancarkan dari kamera. Dengan cepat kami melaporkan situasi ponpes malam hari, kamera terus-menerus merecord.
Kami menuju hall, masuk ke dalam kelas-kelas, melihat seluruh ruang belajar, menuju kamar siswa, melihat koleksi buku-buku dan catatan siswa yang tertinggal dan apa saja yang menurut kami menarik. Suasana gelap, sehingga bila tanpa bantuan lampu kamera kami pasti akan kesulitan untuk berjalan di area ponpes yang luasnya (berdasarkan kira-kira aja) sekitar 2 hektar.
Menerobos tanpa izin, ditambah adanya larangan melintas, police line, dari Polisi Diraja Malaysia, membuat kami tegang dan khawatir ketahuan. Namun perasaan itu terkadang menjadi penambah semangat.
Namun tiba-tiba, ada suara motor meraung mendekati ponpes. Sepertinya mereka berhenti di samping ponpes. Kami diam, lampu kamera kami matikan. Suasana masih hening. Kami berharap suara motor itu adalah suara motor warga dan bukan Polisi Diraja Malaysia.
Sekitar 5 menit kemudian, ada suara orang berbincang-bincang dengan suara yang tinggi. Lampu senter kemudian berkilatan menyambar gedung-gedung asrama. Jantung kami berdegup, “Kita dicari Ton”, kataku pada Anambo Tono.
“Cepet ganti kaset Ton,… masukkan kameranya di ranselku aja”. Tono lalu sigap mengganti kaset di kamera dengan kaset baru dan memasukkannya ke dalam ranselku. Suasana gelap gulita. Kami jalan beringsut menghindari kilatan cahaya senter.
Suara orang yang mencari-cari semakin jelas. Degupan jantung semakin kencang. “Semoga bukan polisi ya, Ton… kita bisa di penjara nih”. Tono diam saja. Kami berkomunikasi dengan gerak dan terus menjauhi suara dan lampu.
Kami bergerak terus mendekati pintu keluar, dengan melintasi halaman ponpes yang rumputnya sudah meninggi. Terkadang suara derakan ranting pohon jatuh yang terinjak, mengagetkan dan menghentikan sejenak langkah kami. Kami lalu berhenti agak lama di bawah pohon samping ponpes. Karena merasa sudah agak aman dan tidak ada lagi kilatan cahaya, kami bergerak ke arah pintu keluar.
“Haii, siapa kamu!!!”, tiba-tiba suara menyalak dan senter menyala menerangi kami. Hoooahhh,… kami ketahuan, dan menghentikan langkah. Kami lalu mendekati sumber suara.
“Kami wartawan dari Indonesia…” balasku. Mereka mendekat.
Setelah cukup dekat, kami mendapati enam orang dengan senjata pentungan panjang. Setelah kami amati lagi, dua diantara mereka mengenakan sarung.
Hatiku agak mendingin, karena mereka pasti bukan polisi diraja Malaysia. “Siapa yang kasih izin, masuk!!!” suara pria bersarung meninggi.
“Maaf pak, kami memang menerobos masuk dari pintu samping”, lalu mereka marah-marah. Kami dikira maling dan orang yang kurang ajar karena masuk tanpa izin. Ternyata mereka adalah pengurus ponpes Lukmanul Hakim, mereka masih menjaga asset ponpes yang masih tersisa. Dulu mereka adalah pengajar dan staff ponpes Lukmanul Hakim.
Pertanyaan paling keras adalah perihal maksud liputan kami, apa agama yang kami anut dan darimana asal kami.
Setelah saling mengenal dan mengetahui maksud masing-masing, kami berdamai.Case Closed, Eh… malahan kami dipersilahkan untuk datang lagi keesokan paginya.
Huuhhhh, lega… setelah jantung seperti copot karena merasa dikejar Polisi Diraja Malaysia, akhirnya jantung berdetak kembali.
Saat Noordin Jadi Pahlawan
Kamis kemarin, 27 Agustus 2009, di Dewan Pers, aku hadir dalam diskusi “Etika Pers dalam Meliput Terorisme”. Judul yang mengundang tanda tanya besar, apakah memang perlu ada etika pers yang “baru” untuk menambah sebelas etika pers yang selama ini sudah ada?.
Pembicara utama acara ini adalah Kadivhumas POLRI Irjen Polisi. Nanan Sukarna, Bambang Harymurti, Iskandar Siahaan, dan Ade Armando. Di kursi peserta selain perwakilan media, hadir beberapa senior di dunia kewartawanan kayak, pak Atmakusumah, Leo Batubara termasuk ketua Dewan Pers Ichlasul Amal.
Pembicaraan dimulai dari Nanan, yang banyak memberi informasi off the record tentang operasi penanggulangan teroris di Temanggung dan Jatiasih. Cerita off the record, jelas jauh lebih menarik dari on the record… walaupun sebagian cerita sebelumnya pernah juga disampaikan oleh Kapolri BHD pada pertemuan dengan pimpinan media di Mabes POLRI, 11 agustus silam.
Setelah itu Bambang Harymurti yang bicara dan kemudian suasana menjadi lebih menyala. BHM menganggap perlu aturan peliputan teroris dengan mengacu pada serangan teroris di Mumbai bulan November 2008 silam.
Untuk mengingat peristiwa Mumbai, aku mengulas sedikit cerita tentang aksi terror Mumbai, yaitu sebuah kelompok yang menamakan dirinya "Deccan Mujahidin" (kemudian di ketahui berasal dari kelompok Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan) melakukan serangkaian penembakan, peledakan, dan penyanderaan. Serangan-serangan tersebut terjadi di stasiun kereta api Chatrapati Shivaji Terminus yang ramai, dua hotel bintang lima yaitu Oberoi/Trident dan Taj Mahal Palace, Kafe Leopold (restoran terkenal di kalangan turis), Rumah Sakit Cama, Mumbai Chabad House (gedung pusat komunitas Yahudi), dan kantor polisi.
Serangkaian serangan teror di Mumbai, ibukota finansial India, menewaskan 172 orang dan menciderai lebih 300 lainnya.
Nah dalam diskusi berkembang cerita bahwa dibalik operasi penanganan teroris di Mumbai, diketahui bahwa anggota jaringan terror menggunakan media televisi untuk memantau pergerakan pasukan anti terror India. Karena hal inilah korban yang jatuh dari tim anti terror India jumlahnya lebih besar dibanding dengan jumlah teroris.
Teroris dengan leluasa memantau gerakan pasukan anti terror yang bergerak dalam operasi dari televisi yang menyiarkan langsung operasi penanganan terror. Karena hal ini pulalah kepala regu anti teroris Negara bagian Maharasthra, Hemant Karkare tewas dalam operasi, karena gerakan pasukannya diketahui oleh para anggota teroris yang memantau gerakan pasukan.
Kepalaku meradang sendiri terbayang Temanggung, operasi 18 jam ……
Waduh..., apa yang terjadi andaikan di Temanggung bener-bener ada anggota terror kelompok Noordin (bukan Noordin boongan…). Pastilah mereka juga akan memantau gerakan Densus 88 dari TV yang bersiaran langsung baik melalui listrik PLN atau sumber energi lain. Mereka mengatur siasat agar menimbulkan korban lebih banyak, dan penonton di rumah akan dapat menyaksikan secara langsung bagaimana akibat serangan itu. Bisa saja akan muncul ledakan bom, tembakan balasan dan lain-lain. Efeknya pasti akan sangat jelas dan terlihat di televisi, darah berceceran, kepala, terpecah, orang terkulai jatuh dan meninggal, erangan kesakitan… o la la…. Semuanya akan terjadi di depan jutaan penonton.
Sementara televisi yang telah menuhankan rating, terus bersiaran dengan gegap gempita… semakin dramatis peristiwa akan semakin meningkatkan rating. Karena siaran dilakukan secara live, tidak ada proses editing yang proper, siaran akan goes through…. Semua akan tertangkap mata, pria, wanita, tua, muda dan anak-anak.
Kelompok teroris juga akan memantau berita dari website dengan blackberrynya, mengetahui rencana pasukan anti terror, rencana strategis dan lain-lain….
Ini proses gila…..
Coba bayangkan andaikata, setelah daya-upaya Noordin dan kelompoknya sudah kehabisan tenaga dan persenjataan… tiba-tiba Noordin keluar dengan rompi bom-nya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berteriak ALLAHU AKBAR, lalu akan disusul dengan rentetan tembakan polisi yang menembakinya!!!! Semuanya disaksikan secara langsung!!!
Begitu heroiknya…..
Ampuuuun… alangkah bodohnya kita!!! Jutaan orang akan bersimpati, jutaan orang bersedia menjadi pengantin, jutaan orang akan meniru gaya Noordin!!!!! Edaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!
Lalu siapa sebenarnya yang melakukan TEROR???
Aku terkesiap,...
Pembicara utama acara ini adalah Kadivhumas POLRI Irjen Polisi. Nanan Sukarna, Bambang Harymurti, Iskandar Siahaan, dan Ade Armando. Di kursi peserta selain perwakilan media, hadir beberapa senior di dunia kewartawanan kayak, pak Atmakusumah, Leo Batubara termasuk ketua Dewan Pers Ichlasul Amal.
Pembicaraan dimulai dari Nanan, yang banyak memberi informasi off the record tentang operasi penanggulangan teroris di Temanggung dan Jatiasih. Cerita off the record, jelas jauh lebih menarik dari on the record… walaupun sebagian cerita sebelumnya pernah juga disampaikan oleh Kapolri BHD pada pertemuan dengan pimpinan media di Mabes POLRI, 11 agustus silam.
Setelah itu Bambang Harymurti yang bicara dan kemudian suasana menjadi lebih menyala. BHM menganggap perlu aturan peliputan teroris dengan mengacu pada serangan teroris di Mumbai bulan November 2008 silam.
Untuk mengingat peristiwa Mumbai, aku mengulas sedikit cerita tentang aksi terror Mumbai, yaitu sebuah kelompok yang menamakan dirinya "Deccan Mujahidin" (kemudian di ketahui berasal dari kelompok Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan) melakukan serangkaian penembakan, peledakan, dan penyanderaan. Serangan-serangan tersebut terjadi di stasiun kereta api Chatrapati Shivaji Terminus yang ramai, dua hotel bintang lima yaitu Oberoi/Trident dan Taj Mahal Palace, Kafe Leopold (restoran terkenal di kalangan turis), Rumah Sakit Cama, Mumbai Chabad House (gedung pusat komunitas Yahudi), dan kantor polisi.
Serangkaian serangan teror di Mumbai, ibukota finansial India, menewaskan 172 orang dan menciderai lebih 300 lainnya.
Nah dalam diskusi berkembang cerita bahwa dibalik operasi penanganan teroris di Mumbai, diketahui bahwa anggota jaringan terror menggunakan media televisi untuk memantau pergerakan pasukan anti terror India. Karena hal inilah korban yang jatuh dari tim anti terror India jumlahnya lebih besar dibanding dengan jumlah teroris.
Teroris dengan leluasa memantau gerakan pasukan anti terror yang bergerak dalam operasi dari televisi yang menyiarkan langsung operasi penanganan terror. Karena hal ini pulalah kepala regu anti teroris Negara bagian Maharasthra, Hemant Karkare tewas dalam operasi, karena gerakan pasukannya diketahui oleh para anggota teroris yang memantau gerakan pasukan.
Kepalaku meradang sendiri terbayang Temanggung, operasi 18 jam ……
Waduh..., apa yang terjadi andaikan di Temanggung bener-bener ada anggota terror kelompok Noordin (bukan Noordin boongan…). Pastilah mereka juga akan memantau gerakan Densus 88 dari TV yang bersiaran langsung baik melalui listrik PLN atau sumber energi lain. Mereka mengatur siasat agar menimbulkan korban lebih banyak, dan penonton di rumah akan dapat menyaksikan secara langsung bagaimana akibat serangan itu. Bisa saja akan muncul ledakan bom, tembakan balasan dan lain-lain. Efeknya pasti akan sangat jelas dan terlihat di televisi, darah berceceran, kepala, terpecah, orang terkulai jatuh dan meninggal, erangan kesakitan… o la la…. Semuanya akan terjadi di depan jutaan penonton.
Sementara televisi yang telah menuhankan rating, terus bersiaran dengan gegap gempita… semakin dramatis peristiwa akan semakin meningkatkan rating. Karena siaran dilakukan secara live, tidak ada proses editing yang proper, siaran akan goes through…. Semua akan tertangkap mata, pria, wanita, tua, muda dan anak-anak.
Kelompok teroris juga akan memantau berita dari website dengan blackberrynya, mengetahui rencana pasukan anti terror, rencana strategis dan lain-lain….
Ini proses gila…..
Coba bayangkan andaikata, setelah daya-upaya Noordin dan kelompoknya sudah kehabisan tenaga dan persenjataan… tiba-tiba Noordin keluar dengan rompi bom-nya, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berteriak ALLAHU AKBAR, lalu akan disusul dengan rentetan tembakan polisi yang menembakinya!!!! Semuanya disaksikan secara langsung!!!
Begitu heroiknya…..
Ampuuuun… alangkah bodohnya kita!!! Jutaan orang akan bersimpati, jutaan orang bersedia menjadi pengantin, jutaan orang akan meniru gaya Noordin!!!!! Edaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!
Lalu siapa sebenarnya yang melakukan TEROR???
Aku terkesiap,...
Senin, 17 Agustus 2009
Revolusi Hati
17 Agustus 2009, hari ini, aku bebas merdeka,… seharusnya ada acara wajib, upacara 17-an pukul 6.30 pagi di kantor, tapi aku dengan kemerdekaanku melanjutkan tidur.
Bangun pagi (agak siang sich…) dengan tenang, liat-liat pesan di handphone dan baca-baca email, hasilnya beberapa teman sudah mengingatkan adanya pengibaran bendera pagi ini. Tidak ada email yang memerdekakan… tidak ada berita yang memerdekakan… dan semuanya masih dalam pola yang sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Aku lanjutkan browsing, dan ternyata angka kemiskinan kita yang kata BPS tahun 2009, terhitung sampe maret, turun menjadi 14,15 persen atau menjadi 32,53 juta jiwa, luar biasa… aku surfing internet mencari indikator penentu kemiskinan, rupanya indikator masih diperdebatkan, masih persis sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
BPS menyebut indikator kemiskinan merupakan gabungan tiga data, yaitu Survey Nilai Tukar Tani (NTT), Harga Konsumen dan Survey Upah. NTT dilakukan setiap bulan dimaksudkan untuk mencari tau perbandingan antara harga barang yang diproduksi petani dengan harga barang yang dibeli oleh petani. Pada survey ini dikumpulkan data upah buruh tani, harga konsumen pedesaan dan harga produk pertanian. Jadi NTT gampangnya bisa mewakili data kemiskinan di pedesaan. Untuk kemiskinan di perkotaan diambil data harga konsumen rumah tangga dan upah buruh di perkotaan. Nah, untuk pendataan upah buruh diperbandingan upah buruh tani, buruh industri dan upah pembantu rumah tangga. Data-data yang diolah ternyata masih sama sejak berpuluh puluh tahun lalu.
Dengan indikator yang masih terus diperdebatkan, persis dengan berpuluh-puluh tahun lalu, penyelenggara pendataan masih juga beragam, BPS buat survey, Keluarga Pra sejahtera badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional BKKBN membuat survey, dan Data Keluarga Miskin Gakin Departemen Kesehatan juga membuat survey. Terus.. datanya masih juga berbeda antar penyelenggara survey, persis sama dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Belum lagi indikator lain-lain berdasarkan kebutuhan nutrisi, kesehatan, perumahan, aset, dan lain-lain. Ada juga pada level apa survey dilakukan, individu, rumah tangga, daerah, negara. Frekuensinya: jangka pendek, menengah, atau panjang. Kelompok usia: apakah anak-anak atau dewasa, dengan pendekatan teori yang nauudzillah banyaknya… persis sama dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Data-data dibuat untuk disesuaikan dengan kebutuhan (proyek) dan lagi-lagi politis, terus… dari mana kita merdeka kalau data-data terus saja dijungkirbalikkan. Persis sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Aku malas untuk melanjutkan browsing data, aku teringat buku How to Lie with Statistics oleh Darrel Huff. Buku ini dapat kita lihat bagaimana data yang benar tapi disajikan dengan cara yang salah atau menguntungkan satu pihak. Selain itu juga disajikan bagaimana mendapatkan sesuatu secara ilmiah tapi hasil yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan kita untuk berbohong. Wah, wah… pakle’ iki kok podo wae dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Dargombes, tenan!!!
Merasa tertipu dengan data-data, aku mencari-cari alasan untuk malas-malasan di rumah, upacara 17 agustus jadi nggak penting,... (apalagi sudah kesiangan!!!). Sekarang aku bebas merdeka, untuk bangun siang, berpikir apa aja, menginginkan apa aja, sok tau apa aja, nyolot apa aja.
Sejurus ada sesuatu menyentuh syaraf ingatan di otak kanan, “ingatlah norma”!!!.
Walah… “Norma” sok tau… katanya pembangunan sesuai norma, pendidikan sesuai norma, pola hidup sesuai norma, bergaul secara norma, lain-lain yang harus sesuai dengan norma dan berbohong sesuai norma… sisi lain masih di otak kananku melawan!!!.
Bangun pagi (agak siang sich…) dengan tenang, liat-liat pesan di handphone dan baca-baca email, hasilnya beberapa teman sudah mengingatkan adanya pengibaran bendera pagi ini. Tidak ada email yang memerdekakan… tidak ada berita yang memerdekakan… dan semuanya masih dalam pola yang sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Aku lanjutkan browsing, dan ternyata angka kemiskinan kita yang kata BPS tahun 2009, terhitung sampe maret, turun menjadi 14,15 persen atau menjadi 32,53 juta jiwa, luar biasa… aku surfing internet mencari indikator penentu kemiskinan, rupanya indikator masih diperdebatkan, masih persis sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
BPS menyebut indikator kemiskinan merupakan gabungan tiga data, yaitu Survey Nilai Tukar Tani (NTT), Harga Konsumen dan Survey Upah. NTT dilakukan setiap bulan dimaksudkan untuk mencari tau perbandingan antara harga barang yang diproduksi petani dengan harga barang yang dibeli oleh petani. Pada survey ini dikumpulkan data upah buruh tani, harga konsumen pedesaan dan harga produk pertanian. Jadi NTT gampangnya bisa mewakili data kemiskinan di pedesaan. Untuk kemiskinan di perkotaan diambil data harga konsumen rumah tangga dan upah buruh di perkotaan. Nah, untuk pendataan upah buruh diperbandingan upah buruh tani, buruh industri dan upah pembantu rumah tangga. Data-data yang diolah ternyata masih sama sejak berpuluh puluh tahun lalu.
Dengan indikator yang masih terus diperdebatkan, persis dengan berpuluh-puluh tahun lalu, penyelenggara pendataan masih juga beragam, BPS buat survey, Keluarga Pra sejahtera badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional BKKBN membuat survey, dan Data Keluarga Miskin Gakin Departemen Kesehatan juga membuat survey. Terus.. datanya masih juga berbeda antar penyelenggara survey, persis sama dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Belum lagi indikator lain-lain berdasarkan kebutuhan nutrisi, kesehatan, perumahan, aset, dan lain-lain. Ada juga pada level apa survey dilakukan, individu, rumah tangga, daerah, negara. Frekuensinya: jangka pendek, menengah, atau panjang. Kelompok usia: apakah anak-anak atau dewasa, dengan pendekatan teori yang nauudzillah banyaknya… persis sama dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Data-data dibuat untuk disesuaikan dengan kebutuhan (proyek) dan lagi-lagi politis, terus… dari mana kita merdeka kalau data-data terus saja dijungkirbalikkan. Persis sama sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Aku malas untuk melanjutkan browsing data, aku teringat buku How to Lie with Statistics oleh Darrel Huff. Buku ini dapat kita lihat bagaimana data yang benar tapi disajikan dengan cara yang salah atau menguntungkan satu pihak. Selain itu juga disajikan bagaimana mendapatkan sesuatu secara ilmiah tapi hasil yang diperoleh disesuaikan dengan kebutuhan kita untuk berbohong. Wah, wah… pakle’ iki kok podo wae dengan berpuluh-puluh tahun lalu.
Dargombes, tenan!!!
Merasa tertipu dengan data-data, aku mencari-cari alasan untuk malas-malasan di rumah, upacara 17 agustus jadi nggak penting,... (apalagi sudah kesiangan!!!). Sekarang aku bebas merdeka, untuk bangun siang, berpikir apa aja, menginginkan apa aja, sok tau apa aja, nyolot apa aja.
Sejurus ada sesuatu menyentuh syaraf ingatan di otak kanan, “ingatlah norma”!!!.
Walah… “Norma” sok tau… katanya pembangunan sesuai norma, pendidikan sesuai norma, pola hidup sesuai norma, bergaul secara norma, lain-lain yang harus sesuai dengan norma dan berbohong sesuai norma… sisi lain masih di otak kananku melawan!!!.
Kamis, 13 Agustus 2009
Noordin, oh… Ibrahim!!!
Sejak pengepungan Sabtu, 8 Agustus 2009, nama Noordin kembali merogoh perhatian publik. 17 jam dikepung hasilnya “saya Noordin….!!!!..... eh, tapi bohong!!!”, dan terkaparlah Noordin palsu itu setelah beton bangunan dan genting menghujani kepalanya. Beton berguguran akibat bom yang dilesakkan ke dalam WC itu, diledakkan oleh Densus 88 anti tekor, eh.. anti terror!!!.
Siapapun yang di dalam rumah Mozahri di desa Beji, Kedu, Temanggung itu, pastilah semangat berkurbannya sudah mencapai ubun-ubun. Tak kenal takut, tak kenal menyerah karena asa agar sang Noordin asli bisa menghilang, paling tidak dia bisa memperpanjang umur Noordin asli selama dia masih bisa bertahan hidup.
Ceritanya, saat pengepungan, ribuan peluru dilontarkan, gas air mata dijejalkan sejak malam, listrik dan air dimatikan, bom diledakkan, tapi Ibrahim tetap bertahan hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Bahkan saat polisi merangsek masuk untuk memastikan bahwa “Noordin” tewas, polisi masih merasakan cekatan bau mesiu dan gas air mata yang mengabut.
Rabu, 12 Agustus 2009, POLRI mengumumkan bahwa sang korban, si Noordin “palsu” itu adalah Ibrahim… Sopo tho Ibrahim iki?
Ibrahim ini,…(sst menurut polisi) adalah salah seorang perencana pemboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli silam.
Ibrahim bukan orang yang direkrut kala dia sudah jadi florist di Hotel Ritz Carlton, tetapi memang orang yang sengaja diselundupkan sebagai pegawai, selama lebih dari dua tahun… sabar banget.
Ibrahim adalah orang kunci dalam inti sel Jakarta dan Bogor. Menurut keterangan Amir Abdillah, tersangka teroris yang tertangkap di Koja 8 agustus 2009, Ibrahim adalah perencana operasi pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.
Sejak awal, Ibrahim yang sudah menikah dan punya dua anak di Kuningan, Jawa Barat, terlibat dalam perencanaan pemboman.
Pada Juni 2009, kelompok Jakarta dan Bogor, menyewa Safe House di Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Harga sewa Rp.800.000. Penyewanya adalah Saifuddin Juhri, teman mertuanya Noordin M Top, tapi KTP yang diberikan adalah KTP Ibrahim.
8 Juli 2009 suicide bomber, Dani Dwi Permana, bersama dengan Ibrahim berangkat dari safe house Mampang menuju hotel Ritz Carlton untuk meninjau lokasi.Sekitar pukul 05.50 pagi, Ibrahim dan Dani masuk melalui pintu pegawai. Ibrahim lalu mengajak Dani untuk meninjau ke Restoran Airlangga. Ibrahim ditegur oleh pegawai tetapi Ibrahim dibiarkan masuk karena sudah saling mengenal.
Setelah survey di Restoran Airlangga, pukul 06:08:52 pagi, Dani dan Ibrahim kembali ke ruang pegawai Ritz Carlton. Ibrahim lalu membawa kardus (yang nantinya akan diisi dengan bom rakitan) keluar bersama Dani. Ibrahim bekerja dan Dani pulang kembali ke Mampang. Belum diketahui kapan Ibrahim mengantarkan suicide bomber untuk meninjau lokasi Restoran Syailendra Hotel JW Marriot.
15 Juli 2009, Ibrahim menyewa mobil bak terbuka seharga Rp.250.000, disewa dari warga sekitar Safe House Mampang.
16 Juli 2009, Mobil sudah diisi dengan bunga bunga. Bom rakitan dimasukkan kardus dan diselipkan diantara kardus dan tumpukan bunga. Pukul 06.30 WIB mobil berisi bunga dan bom rakitan yang sudah siap ledak masuk ke hotel Ritz Carlton melalui lodging-dock, tempat untuk masuknya barang-barang keperluan hotel, khusus pada orang yang sudah dikenal atau pegawai. Ibrahim berperan mengatur pengantaran, dan mengangkat sendiri kardus berisi bom rakitan. Sang sopir sempat hendak membantu membawa kardus yang berisi bom rakitan siap ledak, tapi Ibrahim melarangnya.
16 Juli 2009, pukul 14.00, sampah dan bunga- bunga dibuang oleh Danni dari kamar hotel JW Marriots, tentu saja kardus berisi bom disembunyikan dulu saat petugas Room Boy datang.
17 Juli 2009, terjadi pengeboman target utamanya adalah pertemuan bisnis, Breakfast Meeting, Castle Group, pemimpin perusahaan yang berafiliasi dengan AS. Rencana sebelumnya pengeboman hanya dilakukan di Hotel JW Marriots tempat pertemuan bisnis, tapi Ibrahim minta agar operasi dikembangkan juga ke hotel Ritz Carlton karena dia memiliki akses ke dua hotel itu. Setelah hari pengeboman, Ibrahim menghilang dan akhirnya nyangkut di Temanggung.
Sepak terjang Ibrahim cukup mencengangkan, sabar dan telaten. Apa yang menyebabkan Ibrahim terlibat terror bom? Pastilah karena hal yang sangat prinsip di mata dia, masalah ideologi mungkin… hhhmm tapi apakah ada ideologi yang membenarkan kekerasan? Ada nggak ya?
Siapapun yang di dalam rumah Mozahri di desa Beji, Kedu, Temanggung itu, pastilah semangat berkurbannya sudah mencapai ubun-ubun. Tak kenal takut, tak kenal menyerah karena asa agar sang Noordin asli bisa menghilang, paling tidak dia bisa memperpanjang umur Noordin asli selama dia masih bisa bertahan hidup.
Ceritanya, saat pengepungan, ribuan peluru dilontarkan, gas air mata dijejalkan sejak malam, listrik dan air dimatikan, bom diledakkan, tapi Ibrahim tetap bertahan hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Bahkan saat polisi merangsek masuk untuk memastikan bahwa “Noordin” tewas, polisi masih merasakan cekatan bau mesiu dan gas air mata yang mengabut.
Rabu, 12 Agustus 2009, POLRI mengumumkan bahwa sang korban, si Noordin “palsu” itu adalah Ibrahim… Sopo tho Ibrahim iki?
Ibrahim ini,…(sst menurut polisi) adalah salah seorang perencana pemboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada 17 Juli silam.
Ibrahim bukan orang yang direkrut kala dia sudah jadi florist di Hotel Ritz Carlton, tetapi memang orang yang sengaja diselundupkan sebagai pegawai, selama lebih dari dua tahun… sabar banget.
Ibrahim adalah orang kunci dalam inti sel Jakarta dan Bogor. Menurut keterangan Amir Abdillah, tersangka teroris yang tertangkap di Koja 8 agustus 2009, Ibrahim adalah perencana operasi pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.
Sejak awal, Ibrahim yang sudah menikah dan punya dua anak di Kuningan, Jawa Barat, terlibat dalam perencanaan pemboman.
Pada Juni 2009, kelompok Jakarta dan Bogor, menyewa Safe House di Pondok Jaya, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Harga sewa Rp.800.000. Penyewanya adalah Saifuddin Juhri, teman mertuanya Noordin M Top, tapi KTP yang diberikan adalah KTP Ibrahim.
8 Juli 2009 suicide bomber, Dani Dwi Permana, bersama dengan Ibrahim berangkat dari safe house Mampang menuju hotel Ritz Carlton untuk meninjau lokasi.Sekitar pukul 05.50 pagi, Ibrahim dan Dani masuk melalui pintu pegawai. Ibrahim lalu mengajak Dani untuk meninjau ke Restoran Airlangga. Ibrahim ditegur oleh pegawai tetapi Ibrahim dibiarkan masuk karena sudah saling mengenal.
Setelah survey di Restoran Airlangga, pukul 06:08:52 pagi, Dani dan Ibrahim kembali ke ruang pegawai Ritz Carlton. Ibrahim lalu membawa kardus (yang nantinya akan diisi dengan bom rakitan) keluar bersama Dani. Ibrahim bekerja dan Dani pulang kembali ke Mampang. Belum diketahui kapan Ibrahim mengantarkan suicide bomber untuk meninjau lokasi Restoran Syailendra Hotel JW Marriot.
15 Juli 2009, Ibrahim menyewa mobil bak terbuka seharga Rp.250.000, disewa dari warga sekitar Safe House Mampang.
16 Juli 2009, Mobil sudah diisi dengan bunga bunga. Bom rakitan dimasukkan kardus dan diselipkan diantara kardus dan tumpukan bunga. Pukul 06.30 WIB mobil berisi bunga dan bom rakitan yang sudah siap ledak masuk ke hotel Ritz Carlton melalui lodging-dock, tempat untuk masuknya barang-barang keperluan hotel, khusus pada orang yang sudah dikenal atau pegawai. Ibrahim berperan mengatur pengantaran, dan mengangkat sendiri kardus berisi bom rakitan. Sang sopir sempat hendak membantu membawa kardus yang berisi bom rakitan siap ledak, tapi Ibrahim melarangnya.
16 Juli 2009, pukul 14.00, sampah dan bunga- bunga dibuang oleh Danni dari kamar hotel JW Marriots, tentu saja kardus berisi bom disembunyikan dulu saat petugas Room Boy datang.
17 Juli 2009, terjadi pengeboman target utamanya adalah pertemuan bisnis, Breakfast Meeting, Castle Group, pemimpin perusahaan yang berafiliasi dengan AS. Rencana sebelumnya pengeboman hanya dilakukan di Hotel JW Marriots tempat pertemuan bisnis, tapi Ibrahim minta agar operasi dikembangkan juga ke hotel Ritz Carlton karena dia memiliki akses ke dua hotel itu. Setelah hari pengeboman, Ibrahim menghilang dan akhirnya nyangkut di Temanggung.
Sepak terjang Ibrahim cukup mencengangkan, sabar dan telaten. Apa yang menyebabkan Ibrahim terlibat terror bom? Pastilah karena hal yang sangat prinsip di mata dia, masalah ideologi mungkin… hhhmm tapi apakah ada ideologi yang membenarkan kekerasan? Ada nggak ya?
Langganan:
Postingan (Atom)
TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017
TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017 Oleh: Alam Burhanan Virginia, USA Mendengar kabar ada serangan yang mematikan, mende...
-
HANTU FENOMENAL DI KBRI WASHINGTON DC Oleh: Alam Burhanan Di Virginia, AS “Mas, tadi malam saya denger main pianonya bagus sekali”...
-
Tanggal 2 September 2009, sekitar pukul 3 sore kurang dikit, Jakarta digoyang gempa. Gempanya berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, tapi geta...
-
Kompleks Taman Teratai, tidak jauh dari Universitas Tehnologi Malaysia-UTM, di kawasan Skuddai, Johor. Perumahan yang dekat dengan Taman Uni...