Selasa, 24 Oktober 2017

PUASA DAUD DAN KAOS KAKI BOLONG AMIEN RAIS

PUASA DAUD DAN KAOS KAKI BOLONG AMIEN RAIS
Oleh : Alam Burhanan
Virginia, USA

600 juta itu disebut jaksa KPK. Lembaga anti rasuah ini jarang salah..Kalau budaya jawa KPK ini bersifat Tata Titi Tatas Titis. Intinya bekerja seksama dan tepat sasaran.

Kalau saja KPK pun benar soal ini, Amien Rais pasti bisa beli banyak nasi bungkus dan kaos kaki… lho kok?

Aku salah seorang dari berjuta di sana yang sempat mengagumi Amien Rais. Apalagi dia dari Jogja. Aku sempat lama tinggal di Jogja dan waktuku beririsan dengan aktifitas Muhammad Amien Rais, MAR.

Lalu apa hubungan dengan nasi bungkus dan kaos kaki bolong?

Saat MAR menjabat sebagai ketua PP Muhammadiyah, aku dan organisasi mahasiswa meminta waktu hearing dengan MAR.
Aku ingat hari itu Jumat.  Kami diterima pak Amien, (begitu kami menyebutnya) saat jelang sholat Jumat. Saat diskusi baru dimulai, waktu mendekati saat sholat Jumat. Kami lalu sepakat melanjutkan usai sholat jumat.

Kami bersama pak Amien, jalan kaki ke Masjid Gedhe Kauman, tidak terlalu jauh dari kantor PP Muhammadiyah di jalan Ahmad. Dahlan.
Singkat kata, usai sholat pak Amien, mampir ke warung makan, membeli beberapa bungkus nasi dan membawanya ke kantor PP Muhammadiyah.

Ternyata, pak Amien beli nasi bungkus buat kami. Dia menyilakan kami makan siang dulu, tapi ternyata pak Amien tidak ikut makan. MAR sedang puasa. Dia memang kuat menjalankan ibadah puasa Daud, puasa sehari, sehari tidak, keesokkannya puasa lagi berselang seling. Hari itu, pas saat MAR puasa. Kami para mahasiswa rikuh makannya, pak Amien lalu meninggalkan kami untuk sementara kami menyelesaikan makan.
Ampun pak Amien, kami jatuh cinta!

Bebeberapa tahun kemudian, aku belum lagi tuntas kuliah, aku bekerja kontrak sebagai presenter berita di TVRI  Stasiun Yogyakarta. Tugasnya membawakan berita atau program terkait berita.

Di saat puasa, TVRI Stasiun Yogyakarta punya acara unggulan Talkshow menjelang buka puasa namanya Gema Ramadan. Aku ingat betul.
Hostnya bergantian, salah satunya aku ikut nongol di acara bergengsi untuk lokal Jogja. Waktunya pun primetime, jelang bedug maghrib.

Acara Gema Ramadan membahas thema keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Jogja tak pernah kekurangan orang berbobot untuk acara yang kuat hubungannya dengan keilmuan. Kalau dibandingkan mungkin sama dengan Brasil yang tak pernah sepi dari talenta sepakbola.

Salah satu tamunya adalah Muhammad Amien Rais. Produser acara beberapa kali menjadwalkan aku yang membawakan acara saat tamunya pak Amien. Kalau pun dijadwalkan dengan orang lain, aku biasanya ngotot untuk minta tukar jadwal agar aku bersama pak Amien untuk acara itu.

Aku “merasa” lebih dekat dengan pak Amien. GeEr itu adalah penyedap rasa.

Pernah sekali waktu usai acara Gema Ramadan, setelah berbuka kami menuju masjid TVRI untuk sholat magrib. Saat mau sholat aku lihat ujung kaos kaki pak Amien bolong dua-duanya, kiri dan kanan. Aku sempat ingat pak Amien sambil senyum bilang ke aku “ iya bolong mas Alam…, hehe…”
Sederhana betul… Ampun, aku jatuh cinta lagi!

Reformasi berjalan, aku terpisah haluan dengan gerbong MAR.

Pak Amien makin mentereng dengan reformasinya dan pindah ke Jakarta, aku pun pindah untuk jadi wartawan.

Beberapa kali ketemu saat pak Amien menjadi ketua MPR, dan aku merasa istimewa saat dia mengingat namaku dan memanggil “mas Alam”. Tersanjung…
Eh, tenyata pak Amien punya ingatan yang baik perihal nama orang, jadi beberapa orang lain juga dia sebut dengan namanya, mas Joko, mas Toni, mas Rido dan banyak lainnya. Tapi aku tetap sepakat bahwa GeEr itu adalah penyedap rasa.

Banyak juga pertemuan-pertemuan  selanjutnya. Semangat reformasi tertatih, aku pun semakin jarang ketemu Pak Amien. Apalagi aku tak lagi GeEr bahwa pak Amien mengingatku… jadi yah... begitulah. Ditambah ketertarikanku pada aktifitas politik mengendor kayak tali kolor yang butut dan semakin kendor melihat perilaku politisi Senayan.


Sampai akhirnya KPK hadir dengan kasus 600 juta ini…  hadir pula ingatanku pada MAR,…  Muhammad Amien Rais…, pak Amien yang dulu.

ISLAM DI AMERIKA, MENCERNA TAKUT MINORITAS

ISLAM DI AMERIKA, MENCERNA TAKUT MINORITAS
Oleh: Alam Burhanan

Hanya Abdullah yang berada di masjid Martinsburg saat kami datang. Dengan sibuk dia menyilahkan kami masuk, sembari sigap menggelar karpet dan sajadah untuk sholat jumat.

Islamic Society of Martinsburg, nama masjid sekaligus lembaga masjid ini. Letaknya di kota Martinsburg, Negara bagian West Virginia.  Tempat berukuran sekitar 8 kali 10 meter, disewa dan dijadikan masjid. Hanya satu masjid di kota Martinsburg.

Negara bagian West Virginia adalah negara bagian termiskin kedua di Amerika, wilayah basis partai Republican. Pada pemilu lalu, Donald Trump menang tebal, selisih 42.2 persen atas Hilllary Clinton. 

Sekitar 15 menit kemudian, berdatangan jamaah lain. 25 orang hadir pada sholat Jumat. Tak banyak, Hameed salah seorang pengurus masjid memperkirakan sekitar 30 keluarga muslim. Tersempil satu muslimah  yang ikut sholat Jumat.

Aku dan Ronan datang kesini, dua hari setelah kemenangn Donald Trump yang dipastikan pada rabu dinihari. Asmosfir takut menggantung.

Imam Ibraheem Yao, pendatang Sudan, dia seorang mualaf. Ibraheem menyebut, mereka memilih kurang bergaul dengan masyarakat. Pilihan sulit yang diambil. Alasannya, mereka tak ingin bergesekan dengan warga lain yang punya tendensi curiga dengan muslim.

Setelah retorika Trump, rasa takut semakin kuat. “Islam Hates us”, “Ban Muslim” “Islam terrorist” dan lain lain kerap mengalir dari mulut Trump. Ucapan itu segera menular pada pendukungnya.
Muslim sebagai minoritas terpukul, sedih, takut mengaduk-aduk hati. Menjauh jadi pilihan, mungkin sementara. Tapi tak pasti sampai kapan. Harapan bahwa ucapan Trump hanya umpan penarik simpati belaka, tetap ada. Mereka punya keyakinan itu. Tapi apakah pendukung Trump berpikir begitu, tak ada yang yakin.

Hameed Bouberhan, usai sholat jumat mengajak keliling melihat kota Martinsburg. Profil kota kecil, tak banyak orang atau mobil yang berseliweran. Sembari menyetir, Hameed bercerita bahwa warga kota yang tak simpati pada muslim. Para perempuan yang berjilbab bisa disasar tindak kekerasan. Yang paling mungkin jilbab mereka ditarik lepas.

“Makanya kami sangat protektif pada perempuan dan anak anak kami… kami (laki-laki dewasa) selalu mendampingi kalau mereka keluar rumah. “kami tak ingin mereka mendapat masalah”. Lanjut Hameed.

Saat kembali ke masjid, aku bertanya mengapa tak ada tanda atau plang masjid. Hameed bilang, kami tak ingin komunitas kami dikenali, kami tak ingin masjid dicoret-coret, dilempar sampah, atau ada yang menyerang jamaah kami.

Terpukul aku dengan jawaban itu, pikiranku melayang ke tanah air. Terbayang saat ribuan umat muslim berkumpul protes penistaan agama. Aku tak ingin berdebat soal benar dan salah, menista atau tidak,. Tapi cara perkasa berteriak kafir, menghardik, mengancam, membakar, melanggar aturan unjuk rasa tentulah menebar takut.  Lalu bom meneror gereja, membunuh anak anak, menyemai buah kebencian yang ditanam dengan kesumat.
Membesarkan ancaman, menebar takut pada minoritas.

Di Amerika, muslim hanya sekitar satu persen, mereka punya rasa takut sekarang. Sama halnya dengan takut yang terhirup minoritas di Indonesia,…

Bukankah Mayoritas harus menemukan cara menghormati minoritas?
Sekali sekali, cobalah menjadi minoritas, agar tahu bagaimana seharusnya mayoritas.

Tabik dari,
Washington, DC


JANGAN BEREBUT TUHAN, BERBAGI SAJA

JANGAN BEREBUT TUHAN, BERBAGI SAJA
Oleh: Alam Burhanan
di Virginia, US

Musik gospel mengisi ruang utama gereja Epiphany di tengah kota Washington, DC. Lima orang pemainya sedang berlatih untuk acara hari selasa depan. Saat itu hari Jumat, sekira pukul 10.00, waktu pantai timut AS. Musim dingin jelang natal 2016.

Saat mereka berkemas usai latihan, pendeta Patricia menuju ke bagian depan ruang itu. Seorang tunawisma membantunya membopong meja. Sekitar sepuluh orang jamaah sudah menunggu untuk belajar harian bersama kitab Injil. Tunawisma itu duduk di pojok barisan depan.

Belajar dimulai, semua memegang alkitab, tapi tunawisma tua itu tidak. Ada banyak alkitab di dekatnya, tapi dia tidak menyambutnya. Mungkin dia lupa meletakkan kacamata bacanya atau entahlah aku tak sempat bertanya.

Gereja ini, memang membantu rutin para tunawisma dengan memberikan makanan harian pada orang yang kurang beruntung ini. Muslim dan agama lain juga diajak kerjasama menyediakan makanan untuk tunawisma. Jumat siang itu, sup hangat menu tepat di kala dingin disiapkan.

Para tunawisma juga sering menjadikan ruang utama gereja menjadi tempat istirahat atau mencari ruang hangat saat suhu di luar dingin membeku.

Tujuh tunawisma berada di sudut  lain gereja. Mendekap erat selimut, merapatkanya ke badan. Sebagian asik mendengarkan musik dari radio usang yang dipasang tanpa headphone. Suaranya terdengar radius tiga meter.

Sebagian muslim, terlihat dari busananya mulai memasuki gereja kurang dari pukul 12.00. Tak lama setelah pelayanan alkitab pendeta Patricia usai beberapa muslim sigap menggelar sajadah sajadah, sebagian lain membantu pendeta Patricia berkemas usai.

Setiap hari jumat, gereja ini dipakai untuk sholat jumat bagi muslim di Washington DC. ADAMS Center, organisasi muslim terbesar di Washington DC Area menyewa gereja ini untuk sholat jumat.

Mahalnya lahan, bangunan dan sewa bangunan menjadi alasan kerjasama dengan gereja Epiphany. Gereja menyambutnya. Gereja tak menganggap sebagai pesaing keyakinan apalagi musuh. Berbagi ruang bertemu Tuhan  masing-masing keyakinan.

Dua rabbi Yahudi dan beberapa jamaahnya datang ke gereja menyaksikan muslim ibadah.

Imam Suhaib Webb, seorang mualaf memberi khutbah. Peningkatan keimanan dan toleransi adalah ujarannya hari itu. Imam Suhaib dulu seorang DJ HipHop, kakeknya seorang pendeta. Dia memeluk Islam dan mencari ilmu hingga ke timur tengah. Belajar AlQuran di Azhar, Kairo, Mesir dan tempat lain. Sempat pula tinggal beberapa lama di Malaysia. Tak  mau belajaar setengah setengah.

Tunai ibadah sholat jumat, direktur ADAMS Center Washington DC Farooq Syed, meminta jamaah untuk tetap tinggal beberapa saat. Dia mengundang rabbi  Yahudi untuk maju ke depan. Berdampingan dengan Imam Suhaib, dia menyatakan mendukung muslim dari ancaman Islamophobia. Islam agama damai ucapnya, jangan jadikan kekerasan oleh sebagian muslim radikal sebagai alat pembenar bahwa Islam merestui kekerasan.
Dia menyatakan mendukung umat Islam bila diperlakukan tidak adil.
Tanya jawab singkat sempat terjadi antara rabbi dan jamaah muslim, selebihnya berpelukan pamit pulang.

Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama. Kristen, Islam dan Yahudi di gereja Epiphany, sebuah gereja tua berjarak satu kilometer saja dari Gedung Putih, kantor presiden AS.

Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama saling menguatkan.


Hari ini tiga agama sekaligus meruang mewaktu bersama mencari Tuhan mereka.

ARTAN MATI UNTUK APA?

ARTAN MATI UNTUK APA?
Renungan Tindak Brutal Muslim di Columbus, Ohio

Oleh: Alam Burhanan
di Virginia, US

Abdul Razak Ali Artan, baru berusia 18 tahun. Baru kuliah satu semester di kampus Ohio State University, OSU di kota Columbus.

Senin, 28 november 2016, sekira pukul sepuluh pagi di mati.
Tiga butir peluru polisi menghentikan detak jantungnya yang sebelumnya berdegup kencang-kencang. Sekencang mobil yang disetirnya.

Artan tinggal bersama ibu dan lima saudaranya. Dia putra tertua. Harapan keluarga imigran asal Somalia. Dia pintar, cum laude dari community college, sebelum dia menempatkan namanya menjadi mahasiswa di OSU. Sebuah kampus negeri besar di Ohio.

Tetangga dan kerabatnya menyebut dia anak baik. Warung di dekat apartemen keluarganya bersaksi dia ramah, tak pernah beli alkhohol, sesuatu yang jamak dicoba remaja seusianya.

Di OSU, dia sempat mengeluh susah mencari tempat sholat. Dia tertib menjalankan sholat 5 waktu. Keluhannya atas tempat sholat membuatnya dijadikan profil dari artikel di majalah kampus.

Semangat cintanya pada agama Islam membuatnya Artan, peduli dengan muslim lainnya. Terlacak kecintaanya itu oleh pihak lain.
Diubahnya pola pikir Artan, dia menjadi radikal dalam waktu pendek saja. Media digital sekarang, membuat orang mudah saja terhubung. Niat baik dan buruk mudah saja tersambung.

Pagi itu kemarahannya memuncak, dia tulis di linimasa Facebooknya bahwa dia muak dengan dengan kekerasan yang terjadi terhadap muslim di seluruh dunia. Solidaritasnya membatu. Keras hatinya. Hanyut dia dalam kerasnya semangat. Lupa dia dengan ibunya yang berjuang keras mengasuh dia dan lima saudara lainnya. Lupa dia perjuangan keluarganya yang menjadi pengungsi dari Somalia.

Kuat diduga dia terpengaruh gerakan radikal di Timur Tengah, paling tidak sinyalemen itu ditangkap oleh aparat.

Setelah menulis kemarahannya di Facebook, diraihnya kunci mobil milik kleuarganya. Diambil pula pisau daging dari rumah. Keluar dia dengan marah. Marah sejadi jadinya. Mobil dipacu kencang, masuk area kampus. Dipacu mobilnya ke trotoar, di tabraknya pejalan kaki. Mobilnya terhenti menabrak bangunan, tapi tidak marahnya.

Segera dia genggam pisau, dihujamkannya pada pelintas yang menanyakan apakah dia baik baik saja setelah tabrakan. Pelintas mengira dia megalami kecelakaan. Tak ambil peduli dalam diam dia menghujamkan pisaunya.

Polisi datang, dia terus menyerang dalam diamnya. Polisi harus menghentikannya dengan tembakan, dia tetap diam hingga mati.

Di rumah, keluarganya meraung. Adik adiknya  sempoyongan, tak pernah terbayangkan kejadian ini. Dunia terasa sesak. Sang kakak mengambil jalan tak layak. Berat beban mereka tanggung, kakak tercinta harus diikhlaskan, tapi jalan tak layak itu tak masuk akal mereka.

Di sudut lain, organisasi Islam di Amerika mengutuk perilaku kekerasan. Pun demikian komunitas muslis Somalia dan masjid masjid di Ohio. Mereka sedang mengajak muslim Amerika untuk menunjukkan jiwa yang santun, baik seperti tuntunan Islam. Karena jalan seperti itulah yang mereka yakini mampu menyadarkan orang bahwa Islam tak perlu dibenci., Islam bukan berjiwa marah. Sebaliknya Islam adalah kelembutan, kedamaian.
Mereka kecewa mengapa Artan terpengaruh. Mereka mengutuk mengapa ada orang yang mengajak pemuda itu menjadi radikal. Mereka simpati dengan pedih yang ditanggung keluarga Artan.
Harapan keluarga Somalia kandas, menghujam deras ke dasar sakit.
Abdul Razak Ali Artan, pemuda pintar itu direnggut dari keluarga, terpengaruh bertindak brutal.

Artan Mati, menimbun mimpi indah ibu dan lima adiknya.

Selasa, 22 Desember 2009

Nyelelek… Gerbong Pansus Burisrowo

Sembilan orang berloncatan ke dalam gerbong. Masih baru gerbong itu, tapi sudah terlihat tidak terawat dengan apik. Warna gerbong yang hijau muda sudah pudar dihiasi dengan beberapa karat di persendian dan tulangnya. Sembilan orang itu, tidak risih dengan kondisi gerbong, mungkin sudah menjadi bagian dari dari kerusakan gerbong-gerbong itu.

Grudag, grudug, krompyang… mak dul.. mak dull… suara sumbang dari dalam gerbong bermunculan tanpa harmoni tak lama setelah sembilan orang itu naik dan menguasai gerbong. Semua membawa pesan dari yang memintanya naik ke atas gerbong. Rekan lainnya adalah kepentingan saja, suara mereka tidak perlu sama, yang penting bunyinya nyaring. Enam ratus halaman laporan investigasi para dewa utusan Bethara Guru tidak pernah dibaca, sehingga bunyinya tak menemukan jawaban yang penting, melainkan hanya pamer jago silat lidah dan interupsi tidak penting.

Ujung jalan gelap, tujuan dari gerbong. Mereka tidak peduli yang penting naik panggung dan menjadi pahlawan. Penduduk di sepanjang jalur yang dilewati gerbong diajak naik, yang mengerti tentang gerbong diajak menyatakan pandangan, yang tak mengerti dihasut dan dijejali pengetahuan yang nihil. Pertanyaan tidak bermutu, hanya membuang waktu, aroma kematian sudah tercium. Akan kemana mereka dibawa?

Ternyata komandan gerbong bernama Burisrowo dan Kartamarma. Kaya dengan omongan nihil mereka mencecar Setyaki. Setyaki dikejar kemana-mana, padahal Setyaki sedang menunggu Prabu Kresna yang sedang bernegosiasi dengan Duryudana untuk membagi Kerajaan Astina, bung… ini masalah kekuasaan.

Setyaki yang sedang mengatur keuangan pemerintahan Prabu Kresna, dianggap alpa dan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan kekuasaan Prabu Kresna. Dunia perkeliran tidak menyebut Setyaki dan Prabu Kresna salah, tapi di perkeliran sekarang Setyaki dan Prabu Kresna boleh jadi salah, tapi kalau orang di gerbong mengincar daulat Prabu Kresna yang dipilih 63 persen suara rakyat, mereka alpa besar.Jelas mereka tak mampu merebut kuasa Prabu Kresna, tapi mereka mau mengganggunya dan minta sapi-sapi dari sang Prabu. Dagang sapi.

Bisa jadi muncul goro-goro, Triwikromo dari rakyat… Chaos di Negeri Astina.

Hukum di gerbong sana tak jelas, syahwat berkuasa terlalu merendam otak-otak mereka yang sedikit, mereka memang berpikir politik dan hanya melulu tentang ujungnya, Kuasa!

To predict the behaviour of ordinary people in advance, you only have to assume that they will always try to escape a disagreeable situation with the smallest possible expenditure of intelligence. (Friedrich Nietzsche).

Now, you see!

Kamis, 17 Desember 2009

Mengintip ATA

Bagian 2.

Jam tangan menunjuk pada angka 6.30 sore waktu Singapore, saat aku, Uwo, Eva dan Firman menaiki taksi di depan hotel tua Grand Central Orchad Road tempat kami menginap. Pakaian sudah dipatut layak untuk pesta gala dinner.

Tak sampai 10 menit, kami tiba di lobby hotel Pan Pacific. Karpet merah diinjak untuk mengantar kami ke pintu masuk. Di depan pintu masuk terpasang standing banner bertuliskan Asian Television Awards 14th. Kami diminta panitia untuk foto bareng dulu.

Masuk ke dalam kami disambut dengan gelas-gelas anggur, merah dan putih di baki yang dibawa oleh petugas hotel. Hanya ada dua meja tempat menaruh beragam jenis kacang, sebagai teman minum anggur, di selasar ruang galla dinner, ball room. Tamu berbaju rapi, kebanyakan dengan stelan jas dan baju malam hitam.

Wajah-wajah para tamu tidak aku kenal, mereka berbincang berkelompok-kelompok. Di tengah ruang selasar, kami bertemu dengan Najwa Shihab, Kania Sutisnawinata dan Fifi Aleydia Yahya dari Metro TV. Kania dan Fifi mendampingi Nana yang jadi nominasi The Best Current Affairs Presenter. Aku dan temen-temen mengusung nominasi atas kategori The Best Current Affairs Program. Kami kemudian berpencaran.

Sesuai rencana pukul 07.30 PM, acara gala dinner dimulai, tapi baru mulai pukul 08.00 malam. Acara pengumuman pemenang pun ikut melorot mundur, baru dimulai pukul 10.30, hohoho.

Kami duduk dalam meja bundar no 26, muat untuk sepuluh undangan. Kami berempat, berbagi meja dengan, Tim Talk Asia CNN International, Hongkong, TV Munhwa Korea dan Tim Asia Uncut, Star World Singapore. Makan malam diisi dengan mendengarkan musik Jazz ringan tapi dengan volume sound system yang keras, jadi pembicaraan dengan penghuni meja harus dengan mendekatkan kepala dan suara yang lebih keras. Pembicaraan tentu saja diisi dengan tanya jawab program masing-masing yang masuk nominasi.Rupanya di meja 26 tempat kita gala dinner, ada dua presenter yang masuk nominasi, yakni Anjali Rao dari CNN dan Jon Niermann dari Star World. Tim Korea dan Indonesia mewakili program.

Huh… akhirnya tiba saatnya pengumuman, dan pembawa acaranya mengawali dengan minta maaf bahwa acara mundur kurang lebih satu setengah jam… nah akibatnya itu membuat susunan acara ada yang harus dihilangkan… apakah itu? Aha… ternyata tidak ada winning speech!

Pengumuman berlangsung sangat cepat. Nominasi disebut dan di layar lebar akan muncul cuplikan tayangan sekitar 10 detik. Setelah itu langsung dibacakan pemenang. Jika pada tahun sebelumnya ada tiga kriteria pemenang yaitu Winner, Runner Up dan Hinghly Commended, tahun 2009 ini pemenangnya hanya dua criteria pemenang yaitu Winner dan Highly Commended.

Saat dibacakan nominasi, muncul tepuk tangan dan dukungan, setelah diliat-liat masing-masing Negara mendukung TV asal negaranya yang masuk nominasi. Yang paling seru berteriak mendukung adalah peserta dari India. Dari Indonesia hanya ada dari ANTV empat orang dan Metro TV tiga orang. Pada saat di selasar kami sudah berjanji akan saling mendukung, tapi alamak.. saat dibacakan nominasi dukungan kami tertelan besarnya ruang gala dinner, … nyaris tak terdengar!

Najwa Shihab, diumumkan sebagai Hinghly Commended untuk The Best Current Affairs Presenter, saat tepuk tangan kami untuk Najwa belum usai ternyata pemenangnya teman satu meja kami, Anjali Rao dari CNN, hehehe… Akhirnya tepuk tangan aja terus.

Satu per satu nominasi dibacakan…. Huh, … masih panjang daftar antriannya. Kira kira setengah jam setelah Najwa diumumkan, tiba saat pengumuman nominasi untuk The Best Current Affairs Program.

Nominasinya adalah:

Poisoning the Poor, Electronic Waste in Ghana,Daehan Mediaworld, Korea.
Drugs Business Inside Prison Cell PT. Cakrawala Andalas Televisi Indonesia.
I Survived ABS-CBN Broadcasting Corporation,Philippines.
Man Made Marvels - Sydney Opera House Discovery Networks Asia-Pacific,Singapore.
PD Notebook - Barricaded Plaza, Human Rights in Custody, Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) Korea.

Setelah seluruh nominator disebut, langsung saja diumumkan bahwa peraih Highly Commended adalah ANTV, dan lagi-lagi tepuk tangan nyaris tak terdengar… selanjutnya pemenang utamanya adalah Sunday Report: Sichuan Earthquake One Year On The Unspeakable Truth Television Broadcasts Limited, Hong Kong, tepuk tangan dukungannya juga tak terdengar seseru kalau TV India yang menang…

Alhamdulillah menang dan dapat Highly Commended, walaupun dari semula aku yakin akan jadi pemenang utama.

Aku inget dengan keyakinan Senior Manager Animax yang ngobrol dengan aku saat di selasar tentang program kita yang masuk nominasi, dengan logat Inggris Singapore dia dengan yakin berujar : You will win, you will win… I bet for you! I bet for you… I bet for you!!!... sama yakinnya dengan aku bahwa Telisik akan menjadi The Winner.

….Still… there must be sunshine after rain!!!

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017

TEROR DI MANHATTAN, 31 OKTOBER 2017 Oleh: Alam Burhanan Virginia, USA Mendengar kabar ada serangan yang mematikan, mende...