Sembilan orang berloncatan ke dalam gerbong. Masih baru gerbong itu, tapi sudah terlihat tidak terawat dengan apik. Warna gerbong yang hijau muda sudah pudar dihiasi dengan beberapa karat di persendian dan tulangnya. Sembilan orang itu, tidak risih dengan kondisi gerbong, mungkin sudah menjadi bagian dari dari kerusakan gerbong-gerbong itu.
Grudag, grudug, krompyang… mak dul.. mak dull… suara sumbang dari dalam gerbong bermunculan tanpa harmoni tak lama setelah sembilan orang itu naik dan menguasai gerbong. Semua membawa pesan dari yang memintanya naik ke atas gerbong. Rekan lainnya adalah kepentingan saja, suara mereka tidak perlu sama, yang penting bunyinya nyaring. Enam ratus halaman laporan investigasi para dewa utusan Bethara Guru tidak pernah dibaca, sehingga bunyinya tak menemukan jawaban yang penting, melainkan hanya pamer jago silat lidah dan interupsi tidak penting.
Ujung jalan gelap, tujuan dari gerbong. Mereka tidak peduli yang penting naik panggung dan menjadi pahlawan. Penduduk di sepanjang jalur yang dilewati gerbong diajak naik, yang mengerti tentang gerbong diajak menyatakan pandangan, yang tak mengerti dihasut dan dijejali pengetahuan yang nihil. Pertanyaan tidak bermutu, hanya membuang waktu, aroma kematian sudah tercium. Akan kemana mereka dibawa?
Ternyata komandan gerbong bernama Burisrowo dan Kartamarma. Kaya dengan omongan nihil mereka mencecar Setyaki. Setyaki dikejar kemana-mana, padahal Setyaki sedang menunggu Prabu Kresna yang sedang bernegosiasi dengan Duryudana untuk membagi Kerajaan Astina, bung… ini masalah kekuasaan.
Setyaki yang sedang mengatur keuangan pemerintahan Prabu Kresna, dianggap alpa dan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan kekuasaan Prabu Kresna. Dunia perkeliran tidak menyebut Setyaki dan Prabu Kresna salah, tapi di perkeliran sekarang Setyaki dan Prabu Kresna boleh jadi salah, tapi kalau orang di gerbong mengincar daulat Prabu Kresna yang dipilih 63 persen suara rakyat, mereka alpa besar.Jelas mereka tak mampu merebut kuasa Prabu Kresna, tapi mereka mau mengganggunya dan minta sapi-sapi dari sang Prabu. Dagang sapi.
Bisa jadi muncul goro-goro, Triwikromo dari rakyat… Chaos di Negeri Astina.
Hukum di gerbong sana tak jelas, syahwat berkuasa terlalu merendam otak-otak mereka yang sedikit, mereka memang berpikir politik dan hanya melulu tentang ujungnya, Kuasa!
To predict the behaviour of ordinary people in advance, you only have to assume that they will always try to escape a disagreeable situation with the smallest possible expenditure of intelligence. (Friedrich Nietzsche).
Now, you see!
Selasa, 22 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Mengintip ATA
Bagian 2.
Jam tangan menunjuk pada angka 6.30 sore waktu Singapore, saat aku, Uwo, Eva dan Firman menaiki taksi di depan hotel tua Grand Central Orchad Road tempat kami menginap. Pakaian sudah dipatut layak untuk pesta gala dinner.
Tak sampai 10 menit, kami tiba di lobby hotel Pan Pacific. Karpet merah diinjak untuk mengantar kami ke pintu masuk. Di depan pintu masuk terpasang standing banner bertuliskan Asian Television Awards 14th. Kami diminta panitia untuk foto bareng dulu.
Masuk ke dalam kami disambut dengan gelas-gelas anggur, merah dan putih di baki yang dibawa oleh petugas hotel. Hanya ada dua meja tempat menaruh beragam jenis kacang, sebagai teman minum anggur, di selasar ruang galla dinner, ball room. Tamu berbaju rapi, kebanyakan dengan stelan jas dan baju malam hitam.
Wajah-wajah para tamu tidak aku kenal, mereka berbincang berkelompok-kelompok. Di tengah ruang selasar, kami bertemu dengan Najwa Shihab, Kania Sutisnawinata dan Fifi Aleydia Yahya dari Metro TV. Kania dan Fifi mendampingi Nana yang jadi nominasi The Best Current Affairs Presenter. Aku dan temen-temen mengusung nominasi atas kategori The Best Current Affairs Program. Kami kemudian berpencaran.
Sesuai rencana pukul 07.30 PM, acara gala dinner dimulai, tapi baru mulai pukul 08.00 malam. Acara pengumuman pemenang pun ikut melorot mundur, baru dimulai pukul 10.30, hohoho.
Kami duduk dalam meja bundar no 26, muat untuk sepuluh undangan. Kami berempat, berbagi meja dengan, Tim Talk Asia CNN International, Hongkong, TV Munhwa Korea dan Tim Asia Uncut, Star World Singapore. Makan malam diisi dengan mendengarkan musik Jazz ringan tapi dengan volume sound system yang keras, jadi pembicaraan dengan penghuni meja harus dengan mendekatkan kepala dan suara yang lebih keras. Pembicaraan tentu saja diisi dengan tanya jawab program masing-masing yang masuk nominasi.Rupanya di meja 26 tempat kita gala dinner, ada dua presenter yang masuk nominasi, yakni Anjali Rao dari CNN dan Jon Niermann dari Star World. Tim Korea dan Indonesia mewakili program.
Huh… akhirnya tiba saatnya pengumuman, dan pembawa acaranya mengawali dengan minta maaf bahwa acara mundur kurang lebih satu setengah jam… nah akibatnya itu membuat susunan acara ada yang harus dihilangkan… apakah itu? Aha… ternyata tidak ada winning speech!
Pengumuman berlangsung sangat cepat. Nominasi disebut dan di layar lebar akan muncul cuplikan tayangan sekitar 10 detik. Setelah itu langsung dibacakan pemenang. Jika pada tahun sebelumnya ada tiga kriteria pemenang yaitu Winner, Runner Up dan Hinghly Commended, tahun 2009 ini pemenangnya hanya dua criteria pemenang yaitu Winner dan Highly Commended.
Saat dibacakan nominasi, muncul tepuk tangan dan dukungan, setelah diliat-liat masing-masing Negara mendukung TV asal negaranya yang masuk nominasi. Yang paling seru berteriak mendukung adalah peserta dari India. Dari Indonesia hanya ada dari ANTV empat orang dan Metro TV tiga orang. Pada saat di selasar kami sudah berjanji akan saling mendukung, tapi alamak.. saat dibacakan nominasi dukungan kami tertelan besarnya ruang gala dinner, … nyaris tak terdengar!
Najwa Shihab, diumumkan sebagai Hinghly Commended untuk The Best Current Affairs Presenter, saat tepuk tangan kami untuk Najwa belum usai ternyata pemenangnya teman satu meja kami, Anjali Rao dari CNN, hehehe… Akhirnya tepuk tangan aja terus.
Satu per satu nominasi dibacakan…. Huh, … masih panjang daftar antriannya. Kira kira setengah jam setelah Najwa diumumkan, tiba saat pengumuman nominasi untuk The Best Current Affairs Program.
Nominasinya adalah:
Poisoning the Poor, Electronic Waste in Ghana,Daehan Mediaworld, Korea.
Drugs Business Inside Prison Cell PT. Cakrawala Andalas Televisi Indonesia.
I Survived ABS-CBN Broadcasting Corporation,Philippines.
Man Made Marvels - Sydney Opera House Discovery Networks Asia-Pacific,Singapore.
PD Notebook - Barricaded Plaza, Human Rights in Custody, Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) Korea.
Setelah seluruh nominator disebut, langsung saja diumumkan bahwa peraih Highly Commended adalah ANTV, dan lagi-lagi tepuk tangan nyaris tak terdengar… selanjutnya pemenang utamanya adalah Sunday Report: Sichuan Earthquake One Year On The Unspeakable Truth Television Broadcasts Limited, Hong Kong, tepuk tangan dukungannya juga tak terdengar seseru kalau TV India yang menang…
Alhamdulillah menang dan dapat Highly Commended, walaupun dari semula aku yakin akan jadi pemenang utama.
Aku inget dengan keyakinan Senior Manager Animax yang ngobrol dengan aku saat di selasar tentang program kita yang masuk nominasi, dengan logat Inggris Singapore dia dengan yakin berujar : You will win, you will win… I bet for you! I bet for you… I bet for you!!!... sama yakinnya dengan aku bahwa Telisik akan menjadi The Winner.
….Still… there must be sunshine after rain!!!
Jam tangan menunjuk pada angka 6.30 sore waktu Singapore, saat aku, Uwo, Eva dan Firman menaiki taksi di depan hotel tua Grand Central Orchad Road tempat kami menginap. Pakaian sudah dipatut layak untuk pesta gala dinner.
Tak sampai 10 menit, kami tiba di lobby hotel Pan Pacific. Karpet merah diinjak untuk mengantar kami ke pintu masuk. Di depan pintu masuk terpasang standing banner bertuliskan Asian Television Awards 14th. Kami diminta panitia untuk foto bareng dulu.
Masuk ke dalam kami disambut dengan gelas-gelas anggur, merah dan putih di baki yang dibawa oleh petugas hotel. Hanya ada dua meja tempat menaruh beragam jenis kacang, sebagai teman minum anggur, di selasar ruang galla dinner, ball room. Tamu berbaju rapi, kebanyakan dengan stelan jas dan baju malam hitam.
Wajah-wajah para tamu tidak aku kenal, mereka berbincang berkelompok-kelompok. Di tengah ruang selasar, kami bertemu dengan Najwa Shihab, Kania Sutisnawinata dan Fifi Aleydia Yahya dari Metro TV. Kania dan Fifi mendampingi Nana yang jadi nominasi The Best Current Affairs Presenter. Aku dan temen-temen mengusung nominasi atas kategori The Best Current Affairs Program. Kami kemudian berpencaran.
Sesuai rencana pukul 07.30 PM, acara gala dinner dimulai, tapi baru mulai pukul 08.00 malam. Acara pengumuman pemenang pun ikut melorot mundur, baru dimulai pukul 10.30, hohoho.
Kami duduk dalam meja bundar no 26, muat untuk sepuluh undangan. Kami berempat, berbagi meja dengan, Tim Talk Asia CNN International, Hongkong, TV Munhwa Korea dan Tim Asia Uncut, Star World Singapore. Makan malam diisi dengan mendengarkan musik Jazz ringan tapi dengan volume sound system yang keras, jadi pembicaraan dengan penghuni meja harus dengan mendekatkan kepala dan suara yang lebih keras. Pembicaraan tentu saja diisi dengan tanya jawab program masing-masing yang masuk nominasi.Rupanya di meja 26 tempat kita gala dinner, ada dua presenter yang masuk nominasi, yakni Anjali Rao dari CNN dan Jon Niermann dari Star World. Tim Korea dan Indonesia mewakili program.
Huh… akhirnya tiba saatnya pengumuman, dan pembawa acaranya mengawali dengan minta maaf bahwa acara mundur kurang lebih satu setengah jam… nah akibatnya itu membuat susunan acara ada yang harus dihilangkan… apakah itu? Aha… ternyata tidak ada winning speech!
Pengumuman berlangsung sangat cepat. Nominasi disebut dan di layar lebar akan muncul cuplikan tayangan sekitar 10 detik. Setelah itu langsung dibacakan pemenang. Jika pada tahun sebelumnya ada tiga kriteria pemenang yaitu Winner, Runner Up dan Hinghly Commended, tahun 2009 ini pemenangnya hanya dua criteria pemenang yaitu Winner dan Highly Commended.
Saat dibacakan nominasi, muncul tepuk tangan dan dukungan, setelah diliat-liat masing-masing Negara mendukung TV asal negaranya yang masuk nominasi. Yang paling seru berteriak mendukung adalah peserta dari India. Dari Indonesia hanya ada dari ANTV empat orang dan Metro TV tiga orang. Pada saat di selasar kami sudah berjanji akan saling mendukung, tapi alamak.. saat dibacakan nominasi dukungan kami tertelan besarnya ruang gala dinner, … nyaris tak terdengar!
Najwa Shihab, diumumkan sebagai Hinghly Commended untuk The Best Current Affairs Presenter, saat tepuk tangan kami untuk Najwa belum usai ternyata pemenangnya teman satu meja kami, Anjali Rao dari CNN, hehehe… Akhirnya tepuk tangan aja terus.
Satu per satu nominasi dibacakan…. Huh, … masih panjang daftar antriannya. Kira kira setengah jam setelah Najwa diumumkan, tiba saat pengumuman nominasi untuk The Best Current Affairs Program.
Nominasinya adalah:
Poisoning the Poor, Electronic Waste in Ghana,Daehan Mediaworld, Korea.
Drugs Business Inside Prison Cell PT. Cakrawala Andalas Televisi Indonesia.
I Survived ABS-CBN Broadcasting Corporation,Philippines.
Man Made Marvels - Sydney Opera House Discovery Networks Asia-Pacific,Singapore.
PD Notebook - Barricaded Plaza, Human Rights in Custody, Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) Korea.
Setelah seluruh nominator disebut, langsung saja diumumkan bahwa peraih Highly Commended adalah ANTV, dan lagi-lagi tepuk tangan nyaris tak terdengar… selanjutnya pemenang utamanya adalah Sunday Report: Sichuan Earthquake One Year On The Unspeakable Truth Television Broadcasts Limited, Hong Kong, tepuk tangan dukungannya juga tak terdengar seseru kalau TV India yang menang…
Alhamdulillah menang dan dapat Highly Commended, walaupun dari semula aku yakin akan jadi pemenang utama.
Aku inget dengan keyakinan Senior Manager Animax yang ngobrol dengan aku saat di selasar tentang program kita yang masuk nominasi, dengan logat Inggris Singapore dia dengan yakin berujar : You will win, you will win… I bet for you! I bet for you… I bet for you!!!... sama yakinnya dengan aku bahwa Telisik akan menjadi The Winner.
….Still… there must be sunshine after rain!!!
Senin, 07 Desember 2009
Mengintip ATA
Firman hampir gagal masuk ke Singapore.
Lima menit lagi, batas boarding pesawat Singapore Airlines tujuan Singapore tertutup. Bergegas dengan seluruh tas dan bawaan yang ditenteng, sedikit lari-lari kecil, mengantar kami menaiki pesawat yang berangkat pukul 06.15 WIB… huups.
Aku berangkat bertiga bersama Eva dan Firman ke Singapore pagi itu, 3 Desember 2009. Tujuannya menghadiri gala dinner Asian TV Awards (ATA) ke 14 di Singapore. ATA adalah penghargaan tertinggi tingkat Asia untuk program dan presenter terbaik. ANTV menjadi satu-satunya stasiun TV yang meloloskan programnya dalam nominasi ATA. Episode “Drugs Business inside Prison Cell” masuk nominasi kategori The Best Current Affairs Program.
Sebelum berangkat ada sedikit kejutan… ternyata paspornya Firman-kamerawan yang terlibat dalam pembuatan program Telisik-, tinggal dua bulan lagi padahal Indonesia memberlakukan orang asing yang masuk ke Indonesia paspornya minimal masih valid hingga enam bulan sejak kedatanganya.
Akhirnya pihak Singapore Airline menawarkan surat perjanjian tidak akan melakukan klaim atas tiket bila ternyata sang penumpang alias Firman, tidak bisa masuk ke Singapore dengan alasan Singapore memberlakukan hal yang sama… dengan cepat kita setujui surat perjanjian itu, yang penting berangkat aja dulu ke Singapore.
Di atas pesawat, Firman kita takut-takuti bahwa bila dia kalau sampai nggak bisa masuk ke Singapore, dia terpaksa tidur di bandara Changi dan kita akan rutin mengirimi nasi bungkus pada jam makan siang dan makan malam… hahaha.
Selain itu, biar tidak malu ketahuan tidak masuk ke Singapore, kita juga berjanji tidak akan cerita ke temen-temen kantor… huehehe… Firman senyum-senyum kecut, nggak jelas apakah menganggap lucu atau malahan stress mikirin nasibnya.
Nah… sampai di bandara Changi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Saat turun dari pesawat suasana masih cerah tetapi setelah sekitar 10 menit berjalan meuju ke area pemeriksaan imigrasi, raut muka Firman pelan-pelan menjadi lebih putih kepucat-pucatan, becandaan kami sudah tidak ditanggapi lagi… dan akhirnya giliran Firman diperiksa oleh petugas.
Aku dan Eva menunggu kurang lebih lima meter dari Firman. Aku dan Eva sebenarnya sudah menyiapkan jurus apabila Firman nggak boleh masuk ke Singapore, kami kan menyakinkan pihak imigrasi dengan menunjukkan bukti bahwa kami adalah nominasi yang diundang oleh pihak ATA untuk hadir dalam gala dinner di Singapore. Jurus lain adalah dengan menunjukkan bahwa kami mengantungi kode booking untuk kepulangan kami ke Indonesia dengan Singapore Airlines keesokan harinya (tapi jurus-jurus itu kami sengaja kami sembunyikan dari Firman…, hehehe… sorry bung). Beberapa saat kemudian muka Firman lebih putih lagi saat paspornya diperiksa, aku dan Eva bisik-bisik bahwa muka Firman semakin pucat…
Aku iseng minta ke Eva, “ Va, foto Firman tuch…, mukanya lucu”. Eva dengan cepat mengeluarkan kamera saku dan bersiap memotret Firman, saat bersamaan aku mencoba lebih mendekat ke arah Firman. Tiba-tiba ada teriakan cukup keras dari arah Security, aku menoleh ke Security person itu. Mata sang Security melotot ke arah Eva, pandangan dengan cepat aku buang ke Eva, dan ternyata dia menegur Eva yang akan mengambil foto Firman. (upss, kita lupa di Bandara tidak dibolehkan mengambil foto)… nggak jadi dech dapat barang bukti Firman sedang diperiksa di Imigrasi dengan raut muka yang aneh.
Akhirnya, petugas Imigrasi setelah berkonsultasi dengan petugas yang lebih tinggi wewenangya memberi toleransi, bahwa Firman hanya maksimum 7 hari di Singapore, kalau tidak akan dicari petugas kepolisian dan Imigrasi Singapore. Firman setuju, aku yang sudah dekat dengan meja petugas imigrasi hingga bisa mendengar tawaran itu, juga menambahkan persetujuanku. Surat perjanjian disepakati … Firman selamat dan perlahan darah mengalir kembali ke wajah Firman.
Bersambung
….. Telisik mendapat penghargaan Highly Commended Program.
Lima menit lagi, batas boarding pesawat Singapore Airlines tujuan Singapore tertutup. Bergegas dengan seluruh tas dan bawaan yang ditenteng, sedikit lari-lari kecil, mengantar kami menaiki pesawat yang berangkat pukul 06.15 WIB… huups.
Aku berangkat bertiga bersama Eva dan Firman ke Singapore pagi itu, 3 Desember 2009. Tujuannya menghadiri gala dinner Asian TV Awards (ATA) ke 14 di Singapore. ATA adalah penghargaan tertinggi tingkat Asia untuk program dan presenter terbaik. ANTV menjadi satu-satunya stasiun TV yang meloloskan programnya dalam nominasi ATA. Episode “Drugs Business inside Prison Cell” masuk nominasi kategori The Best Current Affairs Program.
Sebelum berangkat ada sedikit kejutan… ternyata paspornya Firman-kamerawan yang terlibat dalam pembuatan program Telisik-, tinggal dua bulan lagi padahal Indonesia memberlakukan orang asing yang masuk ke Indonesia paspornya minimal masih valid hingga enam bulan sejak kedatanganya.
Akhirnya pihak Singapore Airline menawarkan surat perjanjian tidak akan melakukan klaim atas tiket bila ternyata sang penumpang alias Firman, tidak bisa masuk ke Singapore dengan alasan Singapore memberlakukan hal yang sama… dengan cepat kita setujui surat perjanjian itu, yang penting berangkat aja dulu ke Singapore.
Di atas pesawat, Firman kita takut-takuti bahwa bila dia kalau sampai nggak bisa masuk ke Singapore, dia terpaksa tidur di bandara Changi dan kita akan rutin mengirimi nasi bungkus pada jam makan siang dan makan malam… hahaha.
Selain itu, biar tidak malu ketahuan tidak masuk ke Singapore, kita juga berjanji tidak akan cerita ke temen-temen kantor… huehehe… Firman senyum-senyum kecut, nggak jelas apakah menganggap lucu atau malahan stress mikirin nasibnya.
Nah… sampai di bandara Changi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Saat turun dari pesawat suasana masih cerah tetapi setelah sekitar 10 menit berjalan meuju ke area pemeriksaan imigrasi, raut muka Firman pelan-pelan menjadi lebih putih kepucat-pucatan, becandaan kami sudah tidak ditanggapi lagi… dan akhirnya giliran Firman diperiksa oleh petugas.
Aku dan Eva menunggu kurang lebih lima meter dari Firman. Aku dan Eva sebenarnya sudah menyiapkan jurus apabila Firman nggak boleh masuk ke Singapore, kami kan menyakinkan pihak imigrasi dengan menunjukkan bukti bahwa kami adalah nominasi yang diundang oleh pihak ATA untuk hadir dalam gala dinner di Singapore. Jurus lain adalah dengan menunjukkan bahwa kami mengantungi kode booking untuk kepulangan kami ke Indonesia dengan Singapore Airlines keesokan harinya (tapi jurus-jurus itu kami sengaja kami sembunyikan dari Firman…, hehehe… sorry bung). Beberapa saat kemudian muka Firman lebih putih lagi saat paspornya diperiksa, aku dan Eva bisik-bisik bahwa muka Firman semakin pucat…
Aku iseng minta ke Eva, “ Va, foto Firman tuch…, mukanya lucu”. Eva dengan cepat mengeluarkan kamera saku dan bersiap memotret Firman, saat bersamaan aku mencoba lebih mendekat ke arah Firman. Tiba-tiba ada teriakan cukup keras dari arah Security, aku menoleh ke Security person itu. Mata sang Security melotot ke arah Eva, pandangan dengan cepat aku buang ke Eva, dan ternyata dia menegur Eva yang akan mengambil foto Firman. (upss, kita lupa di Bandara tidak dibolehkan mengambil foto)… nggak jadi dech dapat barang bukti Firman sedang diperiksa di Imigrasi dengan raut muka yang aneh.
Akhirnya, petugas Imigrasi setelah berkonsultasi dengan petugas yang lebih tinggi wewenangya memberi toleransi, bahwa Firman hanya maksimum 7 hari di Singapore, kalau tidak akan dicari petugas kepolisian dan Imigrasi Singapore. Firman setuju, aku yang sudah dekat dengan meja petugas imigrasi hingga bisa mendengar tawaran itu, juga menambahkan persetujuanku. Surat perjanjian disepakati … Firman selamat dan perlahan darah mengalir kembali ke wajah Firman.
Bersambung
….. Telisik mendapat penghargaan Highly Commended Program.
Selasa, 10 November 2009
Minggu, 01 November 2009
Two Big Bangs in a Week
Aku berhenti mengingat Big Bang sampai disini…
Minggu ini ada dua Big Bang dalam hidup. Satu, cerita fabel ngalor-ngidul dengan salah satu teman (yang ceritanya patut dipercaya) satu bulan lalu, tentang Bank Century, mendapatkan sedikit alur logika kebenarannya, aku namakan cerita ini dengan “Fabel Cemani”. Bing bang yang kedua, “What a World, My Real Big Bang”.
Cerita pertama...
FABEL CEMANI
“Lam , bisa ketemu nggak, ada info…”, rasanya tidak ada yang menghentikan aku untuk menerima info, jadi aku jawab aja dengan “Okey, jam berapa? dimana?”.
Begini ceritanya dalam versi Fabel...
Bagaimana cara mendapatkannya? Para kancil berpikir harus menggunakan lumbung desa sebagai perantara. Lumbung ini juga berisi telur bukan hanya beras. Nama lumbung itu adalah Lumbung Cemani. Cara yang dipilih oleh para kancil adalah memasukkan empat telur mereka ke dalam Lumbung Cemani, setelah itu mereka akan mengambilnya lagi secara tiba-tiba dan membuat kehebohan di dalam lumbung. Pada periode waktu yang telah ditentukan maka telur-telur di lumbung dikosongkan, diambil kembali oleh para kancil tapi tentu saja dengan sedikit tipu-tipu muslihat agar suasana lumbung menjadi panik.
Kami akhirnya sama-sama tertawa dengan teka-teki fabel yang tak berujung tapi makin memanas…bang!!!
Cerita Kedua...
WHAT A WORLD, MY REAL BIG BANG
Big Bang keduaku terjadi dalam minggu ini peristiwa maha besar, otak, hati, waktu dan tubuhku berputar keras dan cepat menuju pada intinya hidup, nuklirnya hidup, cinta, berada pada kerapatan dan panas tak terkira dan...bang!!!… meledak dan mengembang dengan laju pengembangan yang kritis,yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya segera mengerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kosong,…semua menjadi baru, semesta baru…
Sabtu, 24 Oktober 2009
“Off The Record” Percakapan Noordin dengan Anak-Buahnya
Percakapan ini direkam beberapa saat sebelum penggerebegan di Jebres, Solo. Berikut ini adalah transcript percakapan selama kurang lebih sepuluh menit.
***
Noordin M Top : NMT
Bagus Budi Pranoto : Urwah
Aryo Sudarsono : Aji
NMT : Disini (Kampung Kepuhsari, RT 3/11, Mojosongo, Jebres, Solo.Red) aman nggak, nek?
Aji : Sudah diclearkan kok.
Urwah : Kita kan dianggap sama warga adalah tamunya Susilo, jadi aman deh kayaknya bo…
NMT : Mantaplah kalo begitu, cyin…, eh ngomong-ngomong, tadi di pasar gading (si Solo.Red) ada lekong lucu lho nek…
Aji : Siapa bo… kok eke’ nggak pernah tau.
NMT : Ah… ye’ nggak perlu tau kali yeee…
Urwah : Iya tuh, biar Bang Nur (NMT.Red) aja deh yang cek apakah dia sekong (sakit=homo.Red) ato nggak… hehehe, lumayanlah bo, dapet calon penganten.
NMT : Hmmm, kalo Goriela (Gorries Mere.Red), kayaknya sekong asyik juga tuh nek…
Urwah : Dia lekong (laki-laki.Red) kayaknya deh bo’,
Aji : Belum tentu juga cyin, hehehehe…
NMT : By the way, kalo kita ngebom lagi hotel Ritz carlton , lucu juga kali ya, nek…. atau di bandara. Nanti eke’ akan pantau dimana elub-elub (bule.Red) lucu yang paling banyak yeee…
Aji : Hotel Ritz Carlton lebih cucok deh bo’….
Kemudian terdengar suara gedoran keras di pintu. Gedoran itu berasal dari pasukan densus 88 yang menggerebeg lokasi.
Tiba-tiba NMT, berteriak kaget…
NMT : Aduh, si Densus kok ngangetin eke’ dech, iiiih… sebel… yuuuk sembunyi yuk nek…
Aji & Urwah : Ikan Hiu dalam Lemari, Yuuuukk mariiiiiii…..
Setelah itu terdengar banyak suara letusan dan ledakan, lalu rekaman terputus.
***
Dokter forensik yang memeriksa jenazah 4 teroris hasil penyergapan di Solo menyebut, bahwa ada kerusakan pada otot anus ketiga teroris. Kerusakan itu diduga karena aktivitas seksual menyimpang alias sodomi. Kebenarannya masih belum pasti.
Rekaman Off The Record diatas adalah rekaman imajiner percakapan kalau pernyataan bahwa NMT dan rekan pelaku “maen belakang”… karena “off the record”, jadi jangan direcord dalam memori otak kanan dan otak kiri ya… hehehe…
***
Noordin M Top : NMT
Bagus Budi Pranoto : Urwah
Aryo Sudarsono : Aji
NMT : Disini (Kampung Kepuhsari, RT 3/11, Mojosongo, Jebres, Solo.Red) aman nggak, nek?
Aji : Sudah diclearkan kok.
Urwah : Kita kan dianggap sama warga adalah tamunya Susilo, jadi aman deh kayaknya bo…
NMT : Mantaplah kalo begitu, cyin…, eh ngomong-ngomong, tadi di pasar gading (si Solo.Red) ada lekong lucu lho nek…
Aji : Siapa bo… kok eke’ nggak pernah tau.
NMT : Ah… ye’ nggak perlu tau kali yeee…
Urwah : Iya tuh, biar Bang Nur (NMT.Red) aja deh yang cek apakah dia sekong (sakit=homo.Red) ato nggak… hehehe, lumayanlah bo, dapet calon penganten.
NMT : Hmmm, kalo Goriela (Gorries Mere.Red), kayaknya sekong asyik juga tuh nek…
Urwah : Dia lekong (laki-laki.Red) kayaknya deh bo’,
Aji : Belum tentu juga cyin, hehehehe…
NMT : By the way, kalo kita ngebom lagi hotel Ritz carlton , lucu juga kali ya, nek…. atau di bandara. Nanti eke’ akan pantau dimana elub-elub (bule.Red) lucu yang paling banyak yeee…
Aji : Hotel Ritz Carlton lebih cucok deh bo’….
Kemudian terdengar suara gedoran keras di pintu. Gedoran itu berasal dari pasukan densus 88 yang menggerebeg lokasi.
Tiba-tiba NMT, berteriak kaget…
NMT : Aduh, si Densus kok ngangetin eke’ dech, iiiih… sebel… yuuuk sembunyi yuk nek…
Aji & Urwah : Ikan Hiu dalam Lemari, Yuuuukk mariiiiiii…..
Setelah itu terdengar banyak suara letusan dan ledakan, lalu rekaman terputus.
***
Dokter forensik yang memeriksa jenazah 4 teroris hasil penyergapan di Solo menyebut, bahwa ada kerusakan pada otot anus ketiga teroris. Kerusakan itu diduga karena aktivitas seksual menyimpang alias sodomi. Kebenarannya masih belum pasti.
Rekaman Off The Record diatas adalah rekaman imajiner percakapan kalau pernyataan bahwa NMT dan rekan pelaku “maen belakang”… karena “off the record”, jadi jangan direcord dalam memori otak kanan dan otak kiri ya… hehehe…
Kamis, 03 September 2009
Takut Mati
Tanggal 2 September 2009, sekitar pukul 3 sore kurang dikit, Jakarta digoyang gempa. Gempanya berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, tapi getarannya lumayan menciutkan nyali.
Aku sedang menghadap komputer saat gempa terjadi, semula terasa gelombang tranversal gempa mengguncang kiri-kanan tubuh. Lalu aku berdiri dan ternyata hantamannya tidak berhenti malah lebih besar. Spontan banyak teriakan muncul, takbir juga berkumandang dimana-mana. Semua berebutan mencari pintu keluar. Tangga darurat dituju beramai-ramai, berhimpitan, sementara getaran masih terasa.
Sebelum menuju tangga darurat aku sempat berpikir apakah aku bertahan saja di ruangan, toh... bila gempa semakin kuat tangga darurat pintu tidak bisa menjadi penyelamat. Pasrah, beberapa detik, namun dorongan dan arus orang yang menuju pintu darurat mengantarkan aku ke pintu darurat juga akhirnya. Tapi kepasrahan beberapa detik membuat, lebih tenang…
Suasana dekat dengan ketidakpastian pernah juga aku alami pada tahun 2004, saat ikut rombongan pasangan calon presiden Wiranto dan wakil presiden Solehuddin Wahid.
Saat itu pasangan capres-cawapres baru saja menyelesaikan kampanye putaran terakhir di Medan, Sumatra Utara. Kami bertolak dari Bandar udara Polonia, Medan, sore hari. Pesawat yang digunakan adalah pesawat carter, jenisnya kalau tidak salah foker 28. Aku sebenarnya berangkat berdua dengan kamerawan Andi Azril, tapi Azril memilih tinggal semalam dulu di Medan, aku memutuskan ikut rombongan pulang ke Jakarta.
Cuaca di bandara Polonia cerah. Pesawat take off dengan mulus. Di dalam pesawat ada pasangan capres-cawapres, Wiranto dan Solehuddin Wahid. Banyak petinggi Partai Golkar juga ikut dalam pesawat carter ini, sebut saja, Akbar Tandung, Fahmi Idris dan lain-lain. Kursi pesawat tidak terisi semuanya, aku mengambil posisi di tengah, samping kananku kursi kosong.
Sepuluh menit terbang, udara gelap menghadang. Pesawat terguncang hebat, di luar yang terlihat hanya gelap, pekat. Dua orang pramugari saat pesawat masuk ke dalam turbulensi udara, sedang membagikan makanan kecil dan permen. Tiba-tiba pesawat seperti tersedot ke bawah, terasa dalam dan membuat tubuh terlonjak ke atas.
Salah seorang pramugari yang sedang membagikan makanan, langsung duduk di sebelahku. Tatapannya penuh ketakutan, dipakainya safety belt dengan cepat. Tidak ada suara di dalam kabin, hanya guncangan hebat yang terasa. Beberapa barang di kabin terhambur.
Tiba-tiba sedotan udara kembali menurunkan ketinggian pesawat, jantung seperti terlonjak keluar, aku berdoa dalam hati, bila aku memang harus mati di sini. Pramugari yang duduk di sampingku melafadzkan “astaghfirullah”, berkali-kali, semakin berguncang suaranya semakin keras.
Jantungku seperti berhenti memompa darah. Cuaca jelek belum terlampaui, tapi aku beranikan bertanya ke pramugari, apakah kejadian seperti ini pernah dialami sebelumnya. Dia menjawab dengan terengah bahwa pengalaman udara buruk seperti ini baru kali ini dialaminya. Aku jadi takut mendengarnya. Pramugari yang setiap hari terbang pun ketakutan.
Pesawat masih juga berguncang keras, tarikan pesawat ke bawah berkali-kali menghentikan denyut jantung, keringat dingin mengalir. Rasa takut mencekam. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah. Terbayang di depanku bahwa aku akan menjadi bagian dari berita besar jatuhnya pesawat yang membawa petinggi parti Golkar. Turbulensi udara masih kuat.
Sekitar 5 menit, terdengar suara mesin mengeras.Semakin lama semakin keras dan akhirnya terdengar suara seperti hentakan, tiba-tiba guncangan berhenti, ada sinar dari balik jendela. Ternyata pesawat berhasil melampaui cuaca buruk. Pramugari di sampingku masih tertunduk.
“Bravo, selamat….”, suara Ruhut Sitompul menggelegar memecah kesunyian, tepuk tangan menggema di dalam pesawat. Ruhut pengacara dengan kuncir rambut dan pernah menjadi “si raja minyak” dalam sebuah sinetron, tertawa lepas, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat itu Ruhut masih menjadi asisten Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
Hampir seluruh penumpang kemudian berdiri, bertepuk tangan, pujian kepada sang pilot terlontar dimana-mana… suasana persis seperti baru saja meraih kemenangan besar.
Aku sedang menghadap komputer saat gempa terjadi, semula terasa gelombang tranversal gempa mengguncang kiri-kanan tubuh. Lalu aku berdiri dan ternyata hantamannya tidak berhenti malah lebih besar. Spontan banyak teriakan muncul, takbir juga berkumandang dimana-mana. Semua berebutan mencari pintu keluar. Tangga darurat dituju beramai-ramai, berhimpitan, sementara getaran masih terasa.
Sebelum menuju tangga darurat aku sempat berpikir apakah aku bertahan saja di ruangan, toh... bila gempa semakin kuat tangga darurat pintu tidak bisa menjadi penyelamat. Pasrah, beberapa detik, namun dorongan dan arus orang yang menuju pintu darurat mengantarkan aku ke pintu darurat juga akhirnya. Tapi kepasrahan beberapa detik membuat, lebih tenang…
Suasana dekat dengan ketidakpastian pernah juga aku alami pada tahun 2004, saat ikut rombongan pasangan calon presiden Wiranto dan wakil presiden Solehuddin Wahid.
Saat itu pasangan capres-cawapres baru saja menyelesaikan kampanye putaran terakhir di Medan, Sumatra Utara. Kami bertolak dari Bandar udara Polonia, Medan, sore hari. Pesawat yang digunakan adalah pesawat carter, jenisnya kalau tidak salah foker 28. Aku sebenarnya berangkat berdua dengan kamerawan Andi Azril, tapi Azril memilih tinggal semalam dulu di Medan, aku memutuskan ikut rombongan pulang ke Jakarta.
Cuaca di bandara Polonia cerah. Pesawat take off dengan mulus. Di dalam pesawat ada pasangan capres-cawapres, Wiranto dan Solehuddin Wahid. Banyak petinggi Partai Golkar juga ikut dalam pesawat carter ini, sebut saja, Akbar Tandung, Fahmi Idris dan lain-lain. Kursi pesawat tidak terisi semuanya, aku mengambil posisi di tengah, samping kananku kursi kosong.
Sepuluh menit terbang, udara gelap menghadang. Pesawat terguncang hebat, di luar yang terlihat hanya gelap, pekat. Dua orang pramugari saat pesawat masuk ke dalam turbulensi udara, sedang membagikan makanan kecil dan permen. Tiba-tiba pesawat seperti tersedot ke bawah, terasa dalam dan membuat tubuh terlonjak ke atas.
Salah seorang pramugari yang sedang membagikan makanan, langsung duduk di sebelahku. Tatapannya penuh ketakutan, dipakainya safety belt dengan cepat. Tidak ada suara di dalam kabin, hanya guncangan hebat yang terasa. Beberapa barang di kabin terhambur.
Tiba-tiba sedotan udara kembali menurunkan ketinggian pesawat, jantung seperti terlonjak keluar, aku berdoa dalam hati, bila aku memang harus mati di sini. Pramugari yang duduk di sampingku melafadzkan “astaghfirullah”, berkali-kali, semakin berguncang suaranya semakin keras.
Jantungku seperti berhenti memompa darah. Cuaca jelek belum terlampaui, tapi aku beranikan bertanya ke pramugari, apakah kejadian seperti ini pernah dialami sebelumnya. Dia menjawab dengan terengah bahwa pengalaman udara buruk seperti ini baru kali ini dialaminya. Aku jadi takut mendengarnya. Pramugari yang setiap hari terbang pun ketakutan.
Pesawat masih juga berguncang keras, tarikan pesawat ke bawah berkali-kali menghentikan denyut jantung, keringat dingin mengalir. Rasa takut mencekam. Tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah. Terbayang di depanku bahwa aku akan menjadi bagian dari berita besar jatuhnya pesawat yang membawa petinggi parti Golkar. Turbulensi udara masih kuat.
Sekitar 5 menit, terdengar suara mesin mengeras.Semakin lama semakin keras dan akhirnya terdengar suara seperti hentakan, tiba-tiba guncangan berhenti, ada sinar dari balik jendela. Ternyata pesawat berhasil melampaui cuaca buruk. Pramugari di sampingku masih tertunduk.
“Bravo, selamat….”, suara Ruhut Sitompul menggelegar memecah kesunyian, tepuk tangan menggema di dalam pesawat. Ruhut pengacara dengan kuncir rambut dan pernah menjadi “si raja minyak” dalam sebuah sinetron, tertawa lepas, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat itu Ruhut masih menjadi asisten Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung.
Hampir seluruh penumpang kemudian berdiri, bertepuk tangan, pujian kepada sang pilot terlontar dimana-mana… suasana persis seperti baru saja meraih kemenangan besar.
Langgan:
Entri (Atom)

